Rupiah Offshore Nyaris Tembus Rp17.900/US$, Paling Volatil di Asia
Jakarta —
Rupiah di pasar offshore nyaris menembus Rp17.900 per dolar AS tadi malam, memperpanjang tekanan terhadap mata uang Indonesia saat pasar domestik tengah libur memperingati Idul Adha.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh Rp17.892/US$ pada sesi perdagangan di luar negeri pukul 23.59 WIB. Meski berhasil ditutup di level Rp17.886/US$ dengan pelemahan 0,25%, angka tersebut menegaskan posisi rupiah sebagai salah satu mata uang paling volatil di kawasan Asia belakangan ini.
Pagi Hari Sedikit Melawan, Tapi Tekanan Belum Usai
Pada perdagangan pagi ini (28/5/2026), rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka stagnan sebelum bergerak sedikit menguat 0,22% ke posisi Rp17.846/US$ pada pukul 06.02 WIB. Penguatan tipis itu belum cukup untuk meredam kekhawatiran pelaku pasar.
Mata uang kawasan Asia lainnya menunjukkan pergerakan yang relatif moderat. Yuan offshore menguat terbatas 0,03%, diikuti yen Jepang yang naik 0,01%. Sebaliknya, dolar Singapura justru melemah tipis 0,01% pada pukul 06.06 WIB.
Namun, tren tersebut berbalik arah tak lama kemudian. Pada pukul 06.50 WIB, yen Jepang berbalik melemah 0,02% dan dolar Singapura menyusut 0,02%, menunjukkan ketidakpastian yang masih menyelimuti pasar valuta asing regional.
Faktor Pemicu Rupiah Paling Liar di Asia
Keunggulan volatilitas rupiah dibanding mata uang Asia lainnya tidak terlepas dari beberapa faktor fundamental. Defisit neraca pembayaran yang makin dalam, tekanan aliran modal keluar, dan sentimen global terhadap negara berkembang menjadi pemberat utama.
Situasi diperparah dengan kondisi pasar domestik yang tengah libur panjang. Minimnya aktivitas perdagangan di dalam negeri membuat rupiah lebih rentan terhadap volatilitas di pasar luar negeri, di mana likuiditas dan spekulasi bermain lebih bebas.
Pergerakan rupiah offshore ini menjadi sinyal penting bagi investor dan pengambil kebijakan. Ketika pasar domestik kembali beroperasi penuh besok, tekanan dari pasar luar negeri berpotensi merembet dan memengaruhi nilai tukar di dalam negeri.