Friday, May 29, 2026
Kesehatan

Dunia Darurat Ebola: Kanada hingga AS Ketatkan Aturan Perjalanan dari Afrika

Sebuah strain langka virus Ebola kembali mengancam dunia. Wabah terbaru yang melanda Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda memaksa sejumlah negara mengambil langkah darurat, termasuk melarang perjalanan dari kawasan yang terdampak.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat angka yang mengkhawatirkan dari wabah ini. Sejak Kinshasa mengumumkan keadaan darurat pada 15 Mei lalu, setidaknya 220 kematian yang diduga dan 900 kasus terkait strain Bundibugyo (BVD) telah tercatat di DRC. Uganda melaporkan lima kasus dan satu kematian yang dikonfirmasi.

WHO telah menaikkan level risiko dari tinggi menjadi sangat tinggi untuk DRC di tingkat nasional. Namun, badan kesehatan PBB itu tetap menilai risiko global masih rendah.

Larangan Perjalanan Merebak

Kongo sendiri sudah menangguhkan seluruh penerbangan ke dan dari Bunia, kota di timur DRC yang menjadi salah satu dari 11 zona kesehatan terdampak. Pengecualian hanya diberikan untuk penerbangan kemanusiaan, medis, dan darurat dengan persetujuan khusus.

Uganda juga membatasi perjalanan dari dan ke DRC. Seluruh penerbangan langsung ditangguhkan, sementara penyeberangan perbatasan bus dan kapal dihentikan selama empat minggu. Pasar mingguan di distrik perbatasan pun ditutup sementara.

Di luar kawasan terdampak, langkah serupa diambil oleh negara-negara besar. Kanada melarang penduduk DRC, Uganda, dan Sudan Selatan masuk selama 90 hari mulai Rabu pekan ini. Warga negara Kanada dan penduduk tetap yang baru saja berada di daerah terdampak wajib menjalani karantina 21 hari mulai 30 Mei, meskipun tidak menunjukkan gejala.

Bahama juga memberlakukan pembatasan masuk selama 30 hari, sementara Amerika Serikat memperluas larangan perjalanan kepada pemegang kartu hijau yang baru berada di negara-negara terdampak.

Bandara Khusus hingga KTT Tertunda

AS menetapkan bandara-bandara khusus bagi warganya yang kembali dari kawasan terdampak, yaitu Washington Dulles, Hartsfield-Jackson Atlanta, dan George Bush Houston. Pemerintahan Trump juga berencana mengerahkan petugas kesehatan ke Kenya untuk mengisi fasilitas karantina potensial.

Di kawasan Timur Tengah, Yordania menangguhkan masuknya orang dari DRC dan Uganda sejak 19 Mei. Bahrain melakukan hal yang sama selama 30 hari untuk pelancong dari Sudan Selatan, DRC, dan Uganda.

India meningkatkan pemeriksaan di bandara internasional utama dan menerbitkan peringatan perjalanan bagi warganya. New Delhi juga menunda KTT India-Afrika yang dijadwalkan pekan ini, serta membatalkan pertemuan Aliansi Kucing Besar Internasional yang banyak anggotanya berasal dari Afrika.

Thailand membatasi masuknya pengunjung dari DRC dan Uganda hanya melalui Bandara Suvarnabhumi Bangkok, dengan syarat dinyatakan negatif dalam pemeriksaan saat kedatangan. Meksiko juga mengumumkan peningkatan pemeriksaan Ebola di bandaranya.

Sampai saat ini, belum ada kasus Ebola yang tercatat di Kanada, Bahama, AS, Yordania, atau Bahrain. Namun, langkah-langkah preventif yang agresif ini menunjukkan kekhawatiran dunia akan potensi penyebaran wabah melampaui Afrika.