Friday, May 29, 2026
Ekonomi

Rupiah Kembali Pecahkan Rekor Terlemah, Sentuh Rp17.865 per Dolar AS Pasca Libur Idul Adha

Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali memecahkan rekor terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Jumat (29/5/2026) pagi. Baru dibuka kembali setelah libur dua hari peringatan Idul Adha, mata uang Garuda langsung tertekan hingga menyentuh Rp17.865 per dolar AS.

Rupiah membuka sesi perdagangan pasar spot hari ini dengan pelemahan tipis 0,02% ke posisi Rp17.793/US$. Namun tekanan jual menguat secara bertahap. Pukul 09:04 WIB, rupiah sudah merosot 0,3% ke Rp17.843/US$. Kemerosotan berlanjut dan pada pukul 09:58 WIB, rupiah terjun ke Rp17.865/US$ atau melemah 0,4% dari level penutupan sebelum libur.

Gejolak ini sejatinya merupakan kelanjutan dari fluktuasi yang sudah terjadi di pasar luar negeri selama masa libur. Kemarin, rupiah offshore sempat mendekati level psikologis Rp18.000/US$, tepatnya Rp17.984/US$ pada pukul 10:57 WIB.

Faktor Penyebab Pelemahan

Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengidentifikasi setidaknya tiga akar masalah yang menekan rupiah saat ini.

“Pertama, pembayaran return aset keuangan domestik ke nonresiden masih berlangsung hingga saat ini,” ujar Faisal Rachman.

Selain itu, Faisal Rachman menyoroti sentimen negatif dari aturan terbaru terkait tata kelola ekspor Sumber Daya Alam (SDA). Regulasi yang mengatur skema ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia ini dinilai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.

“Kemudian, perlunya kepercayaan atau trust bagi investor asing yang ingin menanamkan modal di Tanah Air,” kata Faisal Rachman menambahkan.

Mata Uang Asia Stabil, Rupiah Justru Tersungkur

Yang menarik, pelemahan rupiah terjadi di saat mata uang kawasan lain sudah mulai menunjukkan tanda stabilisasi. Sebagian mata uang Asia bahkan menguat seiring indeks dolar AS sedikit terkoreksi.

Harga minyak mentah dunia juga mulai jinak di kisaran US$90-an per barel, setelah sebelumnya sempat melonjak akibat eskalasi ketegangan AS-Iran. Kesepakatan gencatan senjata sementara selama 60 hari antara Washington dan Teheran turut meredakan kecemasan pasar.

Namun bagi rupiah, sentimen domestik terbukti lebih berat dari faktor eksternal yang mereda. Kombinasi aliran modal keluar investor asing dan kebijakan ekspor SDA yang menuai kontroversi menjadi beban tersendiri bagi mata uang Garuda.

Pasar akan menanti respons Bank Indonesia dalam beberapa hari ke depan apakah akan turun tangan melalui intervensi pasar guna meredam volatilitas rupiah yang semakin liar.