Friday, May 29, 2026
Internasional

Israel Perintahkan Ekspansi Militer ke 70% Wilayah Gaza, Netanyahu: Tekan dari Semua Sisi

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan ekspansi militer besar-besaran ke Jalur Gaza. Dalam konferensi pers yang digelar di permukiman Tepi Barat yang diduduki Israel, Kamis (29/5/2026), Netanyahu memerintahkan pasukannya merebut kendali atas 70% wilayah Gaza — langkah yang menandai eskalasi signifikan di tengah upaya gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat.

“Kami berada di angka 50%, kami telah meningkatkannya menjadi 60%. Arahan saya adalah untuk terus maju. Mari kita lakukan langkah demi langkah,” kata Netanyahu dalam konferensi tersebut, seperti dikutip Reuters.

Saat ini, militer Israel mengklaim telah mengendalikan sekitar 64% wilayah Jalur Gaza yang hancur akibat perang sejak serangan Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023. Sebelumnya, dalam kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS pada Oktober lalu, Israel seharusnya mundur ke “Garis Kuning” yang menjadi batas wilayah kendali kedua pihak.

Namun, Reuters melaporkan Israel secara sepihak memindahkan blok beton penanda Garis Kuning lebih jauh ke area yang sebelumnya dikuasai Hamas. Peta militer Israel yang dirilis Maret lalu juga menunjukkan perluasan zona terlarang yang membuat sebagian besar Gaza kini berada di bawah pembatasan Israel. Perkembangan ini terjadi bersamaan dengan memanasnya konflik Iran versus AS di kawasan yang sempat memicu kekhawatiran global soal stabilitas energi dan ekonomi dunia.

“Pertama-tama, 70%. Mari kita mulai dengan itu. Kami menekan mereka dari semua sisi. Kami akan menangani sisanya,” ujar Netanyahu lagi, menegaskan target berikutnya adalah menguasai 70% wilayah Gaza.

Netanyahu menyebut wilayah yang direbut Israel di Gaza, Suriah, dan Lebanon sebagai “zona penyangga” untuk mencegah serangan kelompok militan di masa depan. Di sisi lain, warga Palestina menilai perluasan wilayah itu sebagai bagian dari strategi Israel untuk menggusur mereka secara permanen dari Gaza. Kekhawatiran tersebut menguat setelah sejumlah pejabat senior Israel, termasuk Menteri Pertahanan Israel Katz, mendorong apa yang mereka sebut sebagai “migrasi sukarela” warga Gaza.

Pernyataan itu memicu kritik dari berbagai pihak yang menilai langkah tersebut berpotensi memperparah krisis kemanusiaan. Arahan terbaru Netanyahu muncul ketika Israel kembali meningkatkan serangan ke Gaza dengan alasan memburu pemimpin senior Hamas. Pada Selasa lalu, Israel mengklaim telah membunuh kepala sayap bersenjata Hamas, hanya 10 hari setelah pembunuhan serupa yang dilaporkan terjadi.

Situasi ini memperpanjang daftar konflik yang mengoyak kawasan Timur Tengah. Harga hewan kurban di Gaza dilaporkan meroket tajam menjelang Idul Adha, sementara aktivitas ekonomi lumpuh total. Konflik berkepanjangan ini juga berdampak pada biaya perjalanan ibadah umrah dan haji dari Indonesia, di mana operator perjalanan mengeluhkan lonjakan biaya penerbangan akibat ketidakpastian rute udara di kawasan tersebut.