Thursday, May 28, 2026
Ekonomi

Harga Emas dan Perak Anjlok Bersamaan, Ramalan Pakar Bikin Cemas

Jakarta — Harga emas dan perak ambles bersamaan di tengah kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat. Logam mulia yang sempat melesat kini harus kembali tertekan oleh sentimen hawkish The Fed.

Pada perdagangan Selasa (26/5/2026), harga emas ditutup di US$ 4.508,46 per troy ons atau ambruk 1,4%. Pelemahan ini membalikkan penguatan 1,4% yang terjadi sehari sebelumnya. Sementara pada Rabu pagi (27/5/2026) pukul 06.22 WIB, harga emas sedikit terangkat ke US$ 4.506,42 per troy ons atau naik tipis 0,04%.

Tekanan terhadap emas muncul setelah serangan militer terbaru AS ke Iran meredupkan harapan tercapainya kesepakatan damai. Situasi ini mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 4% dan memicu kembali kekhawatiran inflasi global.

“Pasar obligasi berpikir langkah suku bunga berikutnya dari Federal Reserve adalah kenaikan. Itu menjadi sentimen negatif bagi pasar emas hari ini,” kata analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, dikutip dari Refinitiv.

Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua Federal Reserve pada pekan ini di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral AS akan memperketat kebijakan moneternya. Pasar saat ini memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang. Meskipun emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil ini cenderung tertekan dalam lingkungan suku bunga tinggi.

“Secara teknikal dalam jangka pendek, pasar masih menguntungkan pihak bearish, sehingga memicu aksi jual teknikal juga,” ujar Wyckoff.

Ia menambahkan bahwa pasar akan mencermati rilis Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS pada Kamis untuk mengukur tekanan inflasi dan arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Sementara itu, UBS memangkas target harga emas akhir tahun sebesar US$400 menjadi US$5.500 karena risiko berlanjut dari imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dan penguatan dolar AS.

Harga Perak Juga Terjun Bebas

Nasib serupa dialami perak. Harga perak ditutup di US$ 76,95 per troy ons atau jatuh 1,44% pada perdagangan Selasa (26/5/2026). Pelemahan ini berbanding terbalik dengan penguatan sebesar 3,4% pada hari sebelumnya.

Pada Rabu pagi (27/5/2026) pukul 06.24 WIB, harga perak mulai merangkak naik ke posisi US$ 77,14 per troy ons atau naik 0,25%. Namun secara umum tren pelemahan masih membayangi menyusul sentimen pengetatan moneter global.

Kenaikan harga minyak mentah akibat memanasnya ketegangan di Timur Tengah turut menjadi faktor pemicu inflasi karena produsen meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan bergerak lebih agresif dalam menekan laju inflasi, yang pada akhirnya menjadi beban tambahan bagi harga emas dan perak.