Thursday, May 28, 2026
Ekonomi

Rupiah Ambruk di Pasar Luar Negeri, Dolar Tembus Rp17.800-Rp18.000

Jakarta — Nilai tukar rupiah mengalami tekanan tajam di pasar non-deliverable forward (NDF) pada Rabu (27/5/2026). Mata uang Garuda menembus level Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS, menjadi posisi terendah sepanjang sejarah.

Data dari Refinitiv menunjukkan, pukul 10.16 WIB, kurs NDF rupiah untuk tenor 1 minggu (SW) berada di kisaran Rp17.832-17.840 per dolar AS. Sementara itu, tenor 1 tahun sudah menembus Rp18.228-18.245.

Pelemahan ini jauh lebih dalam dibandingkan penutupan perdagangan reguler terakhir sebelum libur Idul Adha. Pada Selasa (26/5/2026), rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.775/US$ atau melemah 0,25%.

Apa Itu NDF dan Mengapa Penting?

Pasar NDF merupakan instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Instrumen ini belum tersedia di Indonesia, hanya bisa diakses dari pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

NDF adalah kontrak derivatif valas yang mirip forward. Bedanya, pada NDF tidak terjadi penyerahan mata uang pokok saat jatuh tempo. Yang dibayarkan hanya selisih antara kurs yang disepakati di awal kontrak dengan kurs acuan saat jatuh tempo.

Karena berbasis selisih, NDF banyak digunakan untuk lindung nilai, terutama ketika pelaku pasar ingin mengunci risiko pergerakan kurs tanpa harus membeli dolar di pasar spot.

Sinyal Kehati-hatian dari Pelaku Pasar

Posisi NDF yang lebih lemah dari spot menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar. “Ketika harga rupiah di NDF lebih lemah dari spot, pasar biasanya sedang memberi sinyal kehati-hatian,” jelas analis pasar.

Pelaku pasar melihat risiko dan ketidakpastian masih tinggi, sehingga permintaan lindung nilai meningkat dan ekspektasi kurs ke depan ikut terdorong lebih lemah. Tekanan ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda, meskipun Bank Indonesia terus memantau perkembangan di pasar valas.

Kondisi ini memperpanjang tren pelemahan rupiah yang sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir. Fluktuasi nilai tukar menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha dan investor, terutama terkait dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional.