Saturday, May 30, 2026
Teknologi

BMKG Sebut Agustus Jadi Puncak Musim Kemarau 2026, 57 Persen Wilayah Lebih Panjang dari Biasanya

Jakarta —

Sebagian besar wilayah Indonesia sudah mulai memasuki musim kering. Pertanyaannya, kapan puncak kekeringan itu benar-benar tiba di Tanah Air?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus untuk mayoritas wilayah Indonesia. Namun, sejumlah daerah lebih dulu mengalami kondisi paling kering pada Juli.

Berdasarkan analisis BMKG, puncak kemarau di Agustus mencakup 429 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,4 persen dari total wilayah Indonesia. Ibu kota Jakarta termasuk salah satu daerah yang akan mencapai titik paling kering pada periode ini. Data ini sejalan dengan peringatan BMKG soal potensi siklon tropis Jangmi yang mengintai beberapa wilayah dengan curah hujan tidak merata.

Sementara itu, 12,6 persen wilayah sudah mencapai puncak kemarau pada Juli, meliputi sebagian Sumatra, Kalimantan tengah dan utara, serta sejumlah kecil wilayah di Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga barat Pulau Papua. Pada September, 14,3 persen wilayah sisanya baru memasuki fase puncak, termasuk sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, dan mayoritas NTT.

Masuk Agustus, cakupan wilayah yang mengalami kondisi paling kering meluas secara signifikan. Kondisi kering mendominasi Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Papua.

Yang lebih mengkhawatirkan, BMKG memproyeksikan sifat musim kemarau tahun ini umumnya berada di bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Sebanyak 451 ZOM atau 64,5 persen wilayah diprediksi mengalami kondisi ini. Hanya 245 ZOM (35,1 persen) yang berada di kondisi normal. Sisanya, hanya 3 ZOM atau 0,4 persen di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau dengan sifat atas normal atau lebih basah.

Dampaknya terhadap kondisi ekonomi masyarakat bisa cukup signifikan, terutama bagi sektor pertanian dan ketersediaan air bersih. Dengan durasi musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dari normalnya di 57,2 persen wilayah Indonesia, potensi kekeringan dan kebakaran hutan semakin meningkat.

“Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya,” ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam keterangannya pada Maret lalu.

Pemerintah daerah diimbau untuk memperketat monitoring ketersediaan air bersih, terutama di wilayah yang sudah memasuki puncak kemarau. Warga juga dihimbau untuk bijak menggunakan air dan mewaspadai potensi kebakaran lahan akibat kondisi tanah yang semakin kering.

Sementara di DKI Jakarta, Pemprov sudah menyiapkan kebijakan pemutihan pajak kendaraan menjelang Juni yang bertepatan dengan memburuknya kondisi cuaca. Dengan puncak kemarau diperkirakan tiba pada Agustus, warga Jakarta perlu bersiap menghadapi suhu panas ekstrem dan potensi kekurangan air di beberapa kawasan.