Saturday, May 30, 2026
Internasional

Warga Malaysia Kibarkan Bendera Merah Putih, Minta Gabung ke RI

Jakarta — Sebuah fenomena menarik terjadi di media sosial Malaysia belakangan ini. Ribuan warga negeri jiran mengibarkan bendera Merah Putih dan menyatakan keinginan bergabung dengan Indonesia. Gagasan ini ternyata bukan sekadar tren sesaat, melainkan akar sejarah yang sudah tertanam jauh sebelum kedua negara merdeka.

Kisah ini berawal dari wacana “Indonesia Raya” yang mencuat pada masa akhir pendudukan Jepang di Asia Tenggara. Gagasan tersebut mengusung penyatuan wilayah Nusantara dan Malaya dalam satu negara besar, mencakup Indonesia, Malaya, Singapura, Brunei, hingga Kalimantan Utara. Semangat anti-kolonialisme mendorong para nasionalis dari kedua wilayah berjuang mewujudkan satu tanah air bagi rumpun Melayu.

Momen krusial terjadi pada 12 Agustus 1945. Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat bertemu dengan tokoh nasionalis Melayu di Taiping, Perak. Di sana, mereka berdialog dengan Ibrahim Yaacob dan Burhanuddin Al-Helmy, pemimpin organisasi pergerakan Kesatuan Melayu Muda dan Kesatuan Rakyat Indonesia Semenanjung.

Dalam pertemuan itu, Soekarno mengatakan: “Mari kita ciptakan satu tanah air bagi mereka yang berdarah Indonesia.” Ibrahim Yaacob menjawab tegas: “Kami orang Melayu akan setia menciptakan tanah air dengan menyatukan Malaya dengan Indonesia yang merdeka.”

Namun, rencana persatuan itu kandas. Sejarawan Boon Kheng Cheah menulis dalam Red Star Over Malaya (1983), ada kemungkinan Mohammad Hatta dan tokoh lain menolak ide tersebut. Setelah Jepang menyerah pada 14 Agustus 1945, golongan muda mendesak proklamasi kemerdekaan segera dilakukan. Indonesia akhirnya merdeka pada 17 Agustus 1945, sementara Malaysia baru meraih kemerdekaan 12 tahun kemudian pada 31 Agustus 1957.

Kini, semangat Persatuan Indonesia kembali bergema di tengah warga Malaysia. Fenomena ini memantik diskusi tentang hubungan kedua negara yang memiliki ikatan sejarah dan budaya begitu kuat. Bagi sebagian analis, momentum ini menjadi pengingat bahwa semangat persatuan Nusantara belum sepenuhnya pudar.

Sementara itu, hubungan ekonomi kedua negara terus berjalan dinamis. Beberapa hari lalu, Bulog memastikan harga ekspor beras ke Malaysia tetap berada di atas Rp16.000 per kilogram, menunjukkan posisi tawar Indonesia yang semakin kuat di pasar regional.

Kisah gagasan Indonesia Raya mengajarkan satu hal: bahwa hubungan antarnegara tidak selalu soal politik formal, tetapi juga soal ikatan sejarah dan emosional yang terus hidup di hati masyarakat lintas batas.