Ribuan ATM Bitcoin Bangkrut, Perusahaan Ini Tutup Total gegara Regulasi
Jakarta — Bitcoin Depot, perusahaan ATM Bitcoin yang terdaftar di bursa Nasdaq, resmi menutup seluruh jaringan layanannya dan mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 di Pengadilan Kebangkrutan AS untuk Distrik Selatan Texas pada Senin (18/5/2026).
Perusahaan yang berbasis di Atlanta itu sebelumnya mengoperasikan 9.276 kios ATM yang memungkinkan pelanggan mengonversi uang tunai ke Bitcoin di AS, Kanada, dan Australia. Kini seluruh jaringan ATM tersebut sudah offline dan perusahaan bersiap menjual aset-asetnya.
Laporan kebangkrutan terjadi setelah Bitcoin Depot mengumumkan kinerja kuartal I-2026 yang menunjukkan penurunan pendapatan hingga 49% secara tahunan. Pada periode yang sama, perusahaan mencatat kerugian US$9,5 juta, setelah sebelumnya membukukan laba US$12,2 juta. Laba kotor juga anjlok 85% menjadi US$45 juta.
CEO Bitcoin Depot, Alex Holmes, menyalahkan regulasi yang semakin ketat sebagai penyebab utama keruntuhan bisnisnya.
“Negara-negara bagian memberlakukan kewajiban kepatuhan yang makin ketat, termasuk batasan transaksi baru, dan di beberapa yurisdiksi, pembatasan atau larangan langsung terhadap operasi BTM,” ujar Holmes dalam siaran pers, Rabu (27/5/2026).
“Operator menghadapi peningkatan litigasi dan penegakan peraturan. Di bawah kondisi saat ini, model bisnis perusahaan tak bisa bertahan,” tambahnya.
Bitcoin Depot juga menghadapi gugatan tingkat tinggi yang dipimpin jaksa agung di Massachusetts dan Iowa atas tuduhan fasilitasi penipuan kripto. Penipuan ATM kripto mencapai rekor kerugian sebesar US$389 juta tahun lalu, meningkat 58% dari 2024, sehingga menarik perhatian lebih dari regulator dan jaksa penuntut.
Entitas perusahaan di Kanada juga dimasukkan ke dalam proses peradilan kebangkrutan di AS, sementara entitas non-AS lainnya akan ditutup secara bertahap sesuai regulasi masing-masing negara. Runtuhnya Bitcoin Depot terjadi di tengah gelombang adopsi institusional kripto melalui ETF dan kemajuan regulasi Clarity Act.
