Thursday, May 28, 2026
Politik

Bedah Anggaran Sapi Kurban Prabowo Rp100 M: Kenapa Harga Per Ekor Tembus Rp91 Juta?

Jakarta — Penyaluran 1.098 ekor sapi senilai Rp 100 miliar oleh Presiden Prabowo Subianto untuk Idul Adha 2026 kembali memicu sorotan publik. Kali ini, bukan soal status hukum kurban dari uang negara, melainkan soal logika anggaran: kenapa rata-rata harga satu ekor sapi bisa menyentuh Rp 91 juta?

Matematika di Balik Rp100 Miliar

Perhitungannya sederhana namun mengundang tanya besar. Total anggaran Rp 100 miliar dibagi 1.098 ekor sapi menghasilkan rata-rata Rp 91.074.681 per ekor. Angka ini jauh melampaui kisaran harga sapi kurban di pasar lokal, yang umumnya berkisar Rp 15 juta hingga Rp 60 juta tergantung jenis dan bobot.

Sapi standar seperti Bali, Madura, atau PO berbobot 250-400 kg dijual Rp 15-26 juta per ekor. Sapi premium seperti Limousin atau Simental berbobot 600-800 kg berkisar Rp 35-60 juta. Hanya sapi kelas jumbo dengan berat di atas satu ton yang bisa menembus Rp 80-120 juta — dan jumlahnya terbatas di pasaran.

Pertanyaan Tak Terelakkan

Apakah seluruh 1.098 sapi yang disebar ke berbagai daerah semuanya berjenis Limousin Jumbo? Analis dan pengamat pertanian menilai hal itu mustahil dari sisi pasokan peternak lokal. Jika sebagian besar adalah sapi kelas menengah, maka total anggaran seharusnya jauh di bawah Rp 100 miliar.

Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro sebelumnya memberi penjelasan bahwa “harga sapi bervariasi menyesuaikan bobot dan lokasi”. Penjelasan ini membuka kemungkinan adanya komponen biaya lain di luar harga beli sapi, seperti transportasi, distribusi, dan logistik ke berbagai pelosok Indonesia.

Sorotan Berlapis

Kontroversi anggaran sapi kurban ini menambah panjang daftar perdebatan seputar program kurban presiden. Sebelumnya, publik sudah ramai membahas status hukum kurban dari APBN yang dinilai sebagian ulama bukan merupakan ibadah kurban personal, melainkan bantuan sosial sembelihan dari negara.

Dengan Rp 100 miliar dari uang rakyat, ekspektasi publik terhadap transparansi dan efisiensi anggaran menjadi sangat tinggi. Pertanyaan mendasarnya: di mana sisa angka dari selisih harga pasar yang tampak begitu lebar itu?

Belum ada penjelasan resmi dari pemerintah yang merinci komponen biaya di balik angka Rp 91 juta per ekor tersebut. Publik menunggu kejelasan, sebab setiap rupiah APBN yang terpakai adalah amanah dari rakyat yang harus dipertanggungjawabkan secara transparan.

Baca juga: Gerindra Sebut Sapi Kurban Prabowo Pakai APBN Sudah Dilakukan Sejak Era SBY