Thursday, May 28, 2026
Ekonomi

Rupiah Terlemah Sepanjang Masa, Bank-Bank Jual Dolar di Atas Rp18.000

Jakarta — Rupiah mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), menjelang libur panjang Idul Adha. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.775 per dolar AS, melemah 0,25% dari posisi sebelumnya.

Pergerakan sepanjang hari menunjukkan tekanan berkelanjutan. Rupiah dibuka stagnan di Rp17.730 per dolar AS, lalu berbalik melemah hingga sempat menyentuh Rp17.790 per dolar AS. Posisi ini semakin mendekatkan mata uang Garuda ke level psikologis berikutnya di Rp17.800 per dolar AS.

Kurs Bank-Bank RI Melonjak

Dampak pelemahan rupiah langsung terasa di kurs jual beli bank-bank nasional. Sejumlah bank besar Indonesia kini mematok harga jual dolar AS di atas Rp17.800 per dolar AS, bahkan ada yang menembus Rp18.000.

Bank Central Asia (BCA) menetapkan kurs e-rate beli Rp17.779 dan jual Rp17.799 per dolar AS. Sementara untuk TT counter dan bank notes, BCA mematok harga jual Rp17.835 per dolar AS.

Bank Mandiri menetapkan kurs special rate beli Rp17.740 dan jual Rp17.770 per dolar AS. Untuk TT counter, Mandiri mematok jual Rp17.535 per dolar AS.

Bank Negara Indonesia (BNI) menetapkan kurs special rates beli Rp17.780 dan jual Rp17.800 per dolar AS. TT counter BNI dijual Rp17.810 per dolar AS.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) menetapkan e-rate beli Rp17.598 dan jual Rp17.800 per dolar AS. TT counter BRI mencatatkan harga jual tertinggi di Rp17.905 per dolar AS.

Bank Asing Lebih Mahal

Bank-bank asing yang beroperasi di Indonesia bahkan mematok harga jual lebih tinggi. HSBC Indonesia menetapkan banknote rates jual Rp18.060 per dolar AS — termasuk yang tertinggi di antara bank-bank nasional.

MUFG Bank Jakarta Branch menetapkan exchange rate TTS (telegraphic transfer selling) Rp18.030 per dolar AS. UOB Indonesia mematok harga jual Rp17.962 per dolar AS.

CIMB Niaga dari Malaysia menetapkan kurs valas beli Rp17.782 dan jual Rp17.797 per dolar AS.

Pelemahan Berkelanjutan

Pelemahan rupiah ini terjadi dalam konteks tekanan global yang berkepanjangan. Dolar AS terus menguat terhadap sejumlah mata uang dunia, termasuk mata uang regional Asia.

Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha dan masyarakat yang memiliki kebutuhan transaksi valuta asing, terutama menjelang musim libur Idul Adha yang biasanya meningkatkan permintaan valuta asing.