Thursday, May 28, 2026
Energi

Toyota Pangkas Produksi 83.000 Unit di Luar Jepang Imbas Konflik Timur Tengah

Jakarta — Toyota Motor Corporation memutuskan memangkas produksi mobil di luar Jepang sebanyak 83.000 unit hingga akhir November 2026. Keputusan ini diambil lantaran permintaan mobil di kawasan Timur Tengah dan Asia merosot tajam akibat konflik yang masih berkecamuk di kawasan tersebut.

Sebelumnya, produsen mobil asal Jepang itu sudah lebih dulu memangkas 38.000 unit produksi untuk periode Mei hingga November. Pemangkasan kedua ini menambah tekanan pada lini manufaktur Toyota di sejumlah negara, khususnya Thailand dan Indonesia yang menjadi basis produksi untuk pasar Timur Tengah dan Asia.

Pabrik Thailand dan Indonesia Terdampak

Toyota mulai menyampaikan rencana pemangkasan ini kepada para pemasok komponen pekan ini. Pabrik-pabrik yang terdampak merupakan fasilitas produksi untuk memasok mobil ke dua kawasan strategis tersebut.

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menegaskan belum berencana mengurangi produksi untuk ekspor ke Timur Tengah. Produksi tetap berjalan, sementara pengiriman menunggu situasi kondusif.

Di Jepang J sudah Dipangkas 40.000 Unit

Bukan hanya di luar negeri, Toyota juga sudah mengurangi produksi hingga 40.000 unit di Jepang pada Maret dan April lalu. Selain itu, pemangkasan sekitar 1.500 unit direncanakan antara Juni hingga September karena permintaan terhadap beberapa model kendaraan menurun.

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi akar utama tersendatnya ekspor Toyota ke Timur Tengah. Ketegangan geopolitik itu berdampak langsung pada pola permintaan konsumen di kawasan tersebut.

Proyeksi Laba Toyota Tahun Ini

Toyota menargetkan produksi 10 juta unit mobil pada 2026, naik 1 persen dari tahun sebelumnya. Namun, laba bersih diproyeksikan hanya 3 triliun yen, turun 22 persen dari tahun lalu.

Perkiraan itu berpotensi dikoreksi lebih lanjut jika konflik di Timur Tengah tak kunjung mereda dan harga minyak dunia terus melambung. Situasi ini menambah kekhawatiran industri otomotif global terhadap stabilitas rantai pasok dan permintaan di kawasan strategis.