Friday, May 29, 2026
Energi

Bank Sentral Amerika Minta Dunia Pangkas Konsumsi Minyak dan Gas

Kepala Federal Reserve Bank Dallas, Lorie Logan, mendesak dunia untuk segera memangkas konsumsi minyak dan gas jika penutupan Selat Hormuz masih berlanjut. Peringatan keras ini disampaikan Logan dalam pidato untuk konferensi Bank Sentral Jepang (BOJ) pada Rabu (27/5/2026).

Logan menilai masyarakat global harus menemukan cara bertahan dengan pasokan energi yang lebih terbatas, mengingat jalur pelayaran strategis itu sudah tertutup sekitar tiga bulan terakhir akibat perang AS-Israel terhadap Iran. Situasi ini memicu lonjakan harga energi, pangan, hingga pupuk di berbagai belahan dunia.

“Dengan pasokan yang sangat terbatas, jika pelayaran melalui selat tidak segera kembali seperti sebelum perang, konsumsi minyak dan gas alam dunia mungkin turun lebih signifikan daripada yang terjadi sejauh ini,” kata Logan sebagaimana dikutip Reuters.

Sepertiga Pasokan Energi Global Terancam

Situasi ini kian memprihatinkan mengingat sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelumnya melewati jalur perairan Selat Hormuz. Penutupan selat ini telah menghilangkan sekitar 13 juta barel minyak per hari dari pasokan global sejak konflik meletus.

Logan menekankan bahwa dampak ekonomi dari penutupan Selat Hormuz sangat bergantung pada kemampuan dunia untuk beralih ke sumber energi lain. “Atau menggunakan energi secara lebih efisien, dibandingkan dengan memangkas aktivitas ekonomi,” jelasnya.

Produksi Minyak AS Tak Cukup Tutupi Kekurangan

Berdasarkan survei terbaru Federal Reserve Dallas, para eksekutif memperkirakan produksi minyak AS tahun 2026 hanya meningkat sebesar 250 ribu barel per hari. Tahun depan, pertumbuhannya diperkirakan sekitar 500 ribu barel per hari. Angka ini jauh di bawah kebutuhan untuk menutupi kekurangan pasokan global.

Kekurangan energi global selama ini ditambal dengan menguras cadangan persediaan yang Logan sendiri akui jumlahnya sudah sangat terbatas.

“Bagaimanapun caranya, saya memperkirakan pasar energi akan mencapai keseimbangan dalam waktu dekat. Jika molekul (energi) tersebut tidak tersedia, dunia tidak akan bisa mengonsumsinya,” ujarnya.

Sebagai informasi, Logan merupakan salah satu dari tiga pembuat kebijakan di Bank Sentral AS yang menentang keputusan suku bunga bulan lalu. Mereka menilai The Fed seharusnya memberikan sinyal bahwa dengan melonjaknya harga energi dan komoditas lainnya, kemungkinan kenaikan suku bunga setara dengan potensi penurunan suku bunga.

Dalam pidatonya, Logan juga menyerukan peningkatan ketahanan pasar Obligasi Pemerintah AS melalui kliring terpusat pada perdagangan sekuritas Treasury milik The Fed sendiri, serta memperkuat instrumen likuiditas di luar operasi repo yang ada saat ini.

Baca juga: 4 Perang di Tengah Idul Adha, Hari Raya Kurban Penuh Luka dan Keprihatinan