Friday, May 29, 2026
Internasional

82 Tewas dalam Ledakan Tambang China, Pelanggaran Sistemik Picu Kemarahan Publik

Jakarta — Tragedi maut menghantam industri pertambangan China setelah ledakan di tambang batu bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, menewaskan 82 pekerja dan melukai lebih dari 120 lainnya. Insiden yang terjadi Jumat pekan lalu itu disebut sebagai bencana tambang terburuk di Negeri Tirai Bambu dalam lebih dari 15 tahun terakhir.

Kemarahan publik memuncak di media sosial China setelah terungkapnya sejumlah dugaan pelanggaran keselamatan sistemik di lokasi kejadian. Ratusan ribu komentar dan unggahan membanjiri platform Weibo, mempertanyakan bagaimana bencana sebesar itu masih bisa terjadi di tengah klaim peningkatan standar keselamatan industri tambang.

“Ini sangat menyayat hati, begitu banyak nyawa berharga hilang. Kapan keselamatan benar-benar menjadi prioritas?”

Tongzhou Group, perusahaan swasta yang mengoperasikan tambang tersebut, menjadi sorotan utama. Temuan awal penyelidikan menunjukkan perusahaan itu melakukan “pelanggaran ilegal serius.” Otoritas China berjanji melakukan investigasi ketat dan menghukum pihak-pihak yang bertanggung jawab.

100 Pekerja Tak Terdaftar Picu Pertanyaan

Sejumlah fakta mengguncang publik. Media pemerintah melaporkan sebagian pekerja tidak membawa alat pelacak wajib ke dalam tambang. Cetak biru yang diberikan perusahaan kepada otoritas disebut tidak sesuai kondisi sebenarnya di lapangan, menghambat upaya penyelamatan.

Yang paling memicu kemarahan adalah laporan jumlah pekerja di dalam tambang saat ledakan terjadi mencapai dua kali lipat dari angka resmi perusahaan. Lebih dari 100 pekerja yang tidak terdaftar tiba-tiba muncul dalam data evakuasi.

“Mengapa ada lebih dari 100 pekerja yang tidak terdaftar muncul begitu saja? Apakah untuk melampaui batas produksi? Mengurangi biaya? Atau menyembunyikan jumlah pekerja saat kecelakaan terjadi?”

Tongzhou Group Sudah Dua Kali Disanksi

Riwayat pelanggaran Tongzhou Group ternyata sudah panjang. Pada 2025, perusahaan itu menerima dua sanksi administratif terkait pelanggaran keselamatan kerja. Bahkan pada 2024, tambang Liushenyu sudah masuk daftar nasional tambang batu bara dengan “bahaya serius” dari Administrasi Keselamatan Tambang Nasional China.

Seluruh operasi di empat tambang batu bara milik Tongzhou Group di Shanxi kini diperintahkan berhenti sementara. Para pengelola perusahaan telah dikenai “langkah pengendalian,” meski bentuk tindakan tersebut belum dijelaskan secara detail.

Penyelamatan Masih Berlangsung

Operasi pencarian terhadap setidaknya dua orang yang masih hilang terus dilakukan. Ratusan personel dikerahkan ke lokasi kejadian. Sementara itu, mantan pemimpin redaksi Global Times, Hu Xijin, menekankan pentingnya tidak mundur dari upaya perbaikan keselamatan tambang.

“Masih ada banyak ruang untuk perbaikan dalam keselamatan tambang batu bara, dan menutup celah ini sangat mendesak.”

Tragedi ini mengingatkan kembali era 2000-an ketika kecelakaan tambang mematikan sering terjadi di China. Pemerintah China sebelumnya telah berupaya memperbaiki industri tersebut melalui penguatan regulasi, kerja sama dengan pakar internasional, dan penutupan tambang ilegal. Namun bencana Liushenyu membuktikan bahwa celah keamanan masih lebar.