Wabah Ebola Meledak di Kongo: 900 Kasus, WHO Tetapkan Status Darurat
Wabah Ebola kembali mengguncang Afrika. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lonjakan kasus yang mengkhawatirkan — tembus 900 infeksi terkonfirmasi di Republik Demokratik Kongo. Situasi ini memicu kekhawatiran global akan terulangnya skenario pandemi seperti Covid-19.
Foto-foto yang dirilis Reuters menunjukkan para pekerja Palang Merah dengan alat pelindung diri lengkap melakukan disinfeksi massal di area-area terdampak. Langkah ini merupakan bagian dari upaya darurat mencegah penyebaran lebih luas virus mematikan yang memiliki tingkat fatalitas hingga 50 persen itu.
Penularan Cepat, Respons Lambat
Ebola menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita — darah, muntahan, keringat, hingga air mani. Gejala awal berupa demam tinggi, nyeri otot, dan sakit tenggorokan yang sering disalahartikan sebagai malaria atau tifus. Dalam hitungan hari, penderita bisa mengalami pendarahan internal dan eksternal masif.
WHO telah menetapkan status darurat untuk wabah ini. Namun upaya penanganan di lapangan terkendala infrastruktur kesehatan Kongo yang terbatas serta resistensi dari sebagian komunitas lokal yang masih mempercayai mitos dan menolak intervensi medis.
Bayang-Bayang Pandemi Baru
Wabah ini menjadi ujian bagi sistem kesehatan global pasca-Covid. Para ahli epidemiologi mengingatkan bahwa meski Ebola tidak menyebar melalui udara seperti virus corona, mobilitas internasional yang tinggi bisa membawa virus keluar dari benua Afrika dalam waktu singkat.
Beberapa negara telah mulai meningkatkan pengawasan di pintu masuk perbatasan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan menyatakan terus memantau situasi dan menyiapkan protokol karantina jika diperlukan.
