Saturday, May 30, 2026
Nasional

Dua Dugaan Penyebab Tragedi Glamping Maut di Temanggung Terungkap

Jakarta —

Polres Temanggung, Jawa Tengah, mengungkap dua dugaan penyebab kematian empat anggota satu keluarga yang ditemukan tak bernyawa di dalam tenda glamping di kawasan Kledung, Kabupaten Temanggung. Kematian tragis itu diduga akibat keracunan makanan atau gas hasil pembakaran kompor portabel.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Deputra, menyatakan hasil pemeriksaan awal tim dokter forensik memperlihatkan dua kemungkinan utama yang menewaskan korban.

“Dugaan sementara ada dua, yakni keracunan makanan dan keracunan gas hasil pembakaran,” kata Komang, Jumat (29/5).

Keempat korban berinisial MHM (52), M (43), AEH (17), dan BAH (21) merupakan warga Desa Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Mereka ditemukan dalam kondisi meninggal di lokasi wisata glamping yang menjadi tujuan liburan keluarga tersebut.

Proses autopsi telah dilakukan pada Kamis (28/5) dan selesai pada siang hari. Dari empat korban, hanya satu jenazah berinisial AEH yang menjalani autopsi menyeluruh atas persetujuan keluarga.

“Korban AEH dipilih karena dianggap paling sehat dan merupakan seorang atlet,” ujarnya.

Hasil autopsi lengkap masih menunggu pemeriksaan dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan serta Direktorat Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah yang diperkirakan memerlukan waktu dua hingga lima hari.

Dalam olah tempat kejadian perkara, polisi mengamankan sejumlah barang bukti untuk pemeriksaan forensik. Barang bukti tersebut meliputi lima unit telepon seluler, satu unit mobil, satu kamera, satu set kompor gas portabel, serta satu tungku tanah liat untuk pembakaran briket.

Polisi juga menyita sisa makanan berupa daging, sosis, sayuran, dan nasi putih yang diduga digunakan untuk kegiatan memasak di lokasi kejadian.

“Peralatan memasak ditemukan dalam keadaan tidak menyala,” kata Komang.

Kompor gas portabel ditemukan di luar tenda atau di area teras pintu masuk. Sementara itu, kondisi pintu tenda serta ventilasi di sisi kiri dan kanan ditemukan dalam keadaan tertutup rapat — salah satu temuan yang menjadi perhatian khusus penyidik.

“Hasil pemeriksaan di lokasi tidak ditemukan bekas muntahan atau tanda mencurigakan lainnya. Di dalam tenda hanya terdapat dua kasur dan kantong tidur,” ujarnya.

Kasus ini mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko keamanan saat berkemah, terutama terkait penggunaan kompor gas di area tertutup. Polisi kini telah memeriksa empat saksi dari pihak pengelola tempat wisata tersebut untuk mendalami kasus ini. Belum lama ini, sejumlah wilayah di Indonesia juga dilanda peristiwa bencana alam yang menimpa warga di berbagai daerah.

Keselamatan saat beraktivitas di alam terbuka menjadi sorotan menyusul kejadian ini. Risiko keracunan gas karbon monoksida di ruang sempit dan tertutup merupakan ancaman nyata yang sering kali tidak disadari oleh wisatawan. Para ahli kesehatan menekankan pentingnya menjaga sirkulasi udara saat menggunakan peralatan berbahan bakar di dalam tenda atau gaya hidup yang mengabaikan kewaspadaan terhadap risiko kesehatan dapat berakibat fatal.

Investigasi Polres Temanggung masih berlanjut. Penyidik menunggu hasil laboratorium forensik untuk memastikan penyebab pasti kematian keempat korban. Sementara itu, masyarakat diimbau untuk selalu memastikan kondisi keamanan tempat menginap sebelum melakukan aktivitas berkemah atau glamping.

Peristiwa ini juga menjadi pelajaran bagi pengelola wisata alam untuk meningkatkan standar keamanan, termasuk menyediakan ventilasi yang memadai dan instruksi penggunaan peralatan masak yang aman bagi para pengunjung. Sebelumnya, kasus kebakaran misterius di Sleman juga menarik perhatian publik terkait keselamatan di lokasi wisata.