Saturday, May 30, 2026
Internasional

Israel Kuasai 60 Persen Gaza, Netanyahu Perintahkan Targetkan 70 Persen

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan perintah militer untuk menguasai 70% wilayah Jalur Gaza. Pengumuman ini disampaikan di tengah eskalasi operasi Israel meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat masih dalam proses.

Dalam konferensi pers di permukiman Tepi Barat yang diduduki Israel, Netanyahu membeberkan bahwa kendali militer Israel atas Gaza kini sudah mencapai 60%. Ia menegaskan arahan untuk terus bergerak maju guna mencapai target penguasaan 70% wilayah.

“Kami berada di angka 50%, kami telah meningkatkannya menjadi 60%. Arahan saya adalah untuk terus maju. Mari kita lakukan langkah demi langkah,” kata Netanyahu, seperti dikutip Reuters, Jumat (29/5/2026).

“Pertama-tama, 70%. Mari kita mulai dengan itu. Kami menekan mereka (Hamas) dari semua sisi. Kami akan menangani sisanya,” ujar Netanyahu lagi menegaskan target berikutnya adalah menguasai 70% wilayah Gaza.

Secara detail, Israel diketahui telah mengendalikan sekitar 64% wilayah Jalur Gaza yang hancur akibat perang sejak serangan Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023. Sebelumnya, dalam kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS pada Oktober lalu, Israel seharusnya mundur ke “Garis Kuning” yang menjadi batas wilayah kendali kedua pihak.

Namun, Reuters melaporkan Israel secara sepihak memindahkan blok beton penanda Garis Kuning lebih jauh ke area yang sebelumnya dikuasai Hamas. Peta militer Israel yang dirilis Maret lalu juga menunjukkan perluasan zona terlarang yang membuat sebagian besar Gaza kini berada di bawah pembatasan Israel.

Situasi di Timur Tengah semakin memanas, terutama setelah Iran mengancam “kiamat total” jika AS nekat melanggar gencatan senjata yang sedang dinegosiasikan. Konflik berlarut ini berdampak luas, termasuk tekanan terhadap gencatan senjata Iran-AS yang masih rapuh.

Netanyahu menyebut wilayah yang direbut Israel di Gaza, Suriah, dan Lebanon sebagai “zona penyangga” untuk mencegah serangan kelompok militan di masa depan. Di sisi lain, warga Palestina menilai perluasan wilayah itu sebagai bagian dari strategi Israel untuk menggusur mereka secara permanen dari Gaza.

Kekhawatiran tersebut menguat setelah sejumlah pejabat senior Israel, termasuk Menteri Pertahanan Israel Katz, mendorong apa yang mereka sebut sebagai “migrasi sukarela” warga Gaza. Pernyataan itu memicu kritik dari berbagai pihak yang menilai langkah tersebut berpotensi memperparah krisis kemanusiaan.

Arahan terbaru Netanyahu muncul ketika Israel kembali meningkatkan serangan ke Gaza dengan alasan memburu pemimpin senior Hamas. Pada Selasa, Israel mengklaim telah membunuh kepala sayap bersenjata Hamas, hanya 10 hari setelah membunuh pendahulunya.

Sementara itu, pejabat kesehatan Gaza menyebut serangan tambahan pada Rabu malam menewaskan sedikitnya 10 orang, termasuk lima anak-anak, dan melukai 18 lainnya. Serangan tersebut terjadi ketika warga Palestina tengah merayakan Iduladha di tengah pengungsian dan reruntuhan bangunan akibat perang.

“Kami keluar mendengar suara ledakan. Kami duduk selama satu jam sebelum bisa keluar melalui puing-puing dan menemukan jalan keluar dari tenda,” kata warga Gaza, Etidal Al-Za’im.

Warga lainnya, Abu Azam, mengatakan situasi di Gaza kini tidak lagi aman. “Seseorang di Gaza sama sekali tidak aman. Dia bisa tertembak di jalan, di rumah, di rumah sakit, bahkan dalam perjalanan ke pasar,” ujarnya.

Ketegangan ini juga berdampak pada dinamika geopolitik regional, termasuk ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara yang berkoalisi dengan Iran. Dalam konteks yang lebih luas, ancaman Trump terhadap Oman menambah ketidakpastian di kawasan.

Sementara itu, Iran terus memperkuat pertahanannya. Beberapa hari lalu, Iran mengklaim berhasil menjatuhkan drone AS menggunakan sistem pertahanan baru Arash-e Kamangir, menunjukkan eskalasi militer yang terus berlanjut di kawasan tersebut.