Anak Menkeu Purbaya Tak Pikirin Rupiah Loyo Saat Kuliah di AS, Bayar Pakai Bitcoin!
Jakarta — Putra Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Yudo Sadewa, membagikan pengalaman uniknya saat menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Di tengah pelemahan rupiah yang terus berlanjut, Yudo mengaku sama sekali tidak khawatir karena biaya kuliahnya dibayar menggunakan Bitcoin.
Pernyataan Yudo ini muncul dalam sebuah podcast bersama Samuel Christ yang diunggah pada Jumat (29/5/2026). Dalam perbincangan tersebut, anak Menteri Keuangan itu menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai masih tertekan oleh arus modal asing yang keluar dari pasar.
“Kalau bunga pinjaman sudah belasan persen, ekonomi masyarakat bawah susah muter,” kata Yudo dalam podcast tersebut.
Yudo menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh capital outflow. Investor asing, menurutnya, menjadi bingung akibat kebijakan fiskal yang berubah-ubah ditambah suku bunga pinjaman perbankan yang masih tinggi. Kondisi ini membuat perputaran uang lebih banyak terjadi di kalangan pemerintah dan kelompok atas, sementara masyarakat kelas bawah masih merasakan tekanan. Situasi senada juga diangkat dalam analisis terkait pelemahan rupiah di luar fundamental yang memaksa pengusaha menghadapi tekanan biaya ganda.
Ia mengusulkan suntikan stimulus dari pemerintah serta penurunan suku bunga sebagai solusi agar roda ekonomi kembali bergerak. Namun, Yudo menegaskan bahwa persoalan pelemahan rupiah bukan sepenuhnya berada di tangan kebijakan fiskal. Stabilitas mata uang, menurutnya, lebih banyak dipengaruhi kebijakan bank sentral dan arah kebijakan pemerintah secara keseluruhan.
Dalam podcast itu juga muncul prediksi bahwa nilai tukar rupiah bisa saja menyentuh Rp20 ribu per dolar AS dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. Pernyataan tersebut langsung disambut candaan soal biaya pendidikan di Amerika Serikat yang akan semakin mahal. Namun respons Yudo justru mengejutkan.
“Enggak lah, kan lewat Bitcoin,” katanya singkat.
Pernyataan itu langsung memicu perhatian publik, terutama karena dianggap mencerminkan pandangan generasi muda elite terhadap aset digital di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan terhadap mata uang konvensional. Yudo bahkan menyebut Bitcoin sebagai “aset nomor satu”, sementara dolar AS maupun rupiah hanya dianggap sebagai alat transaksi harian. Uang tunai, menurutnya, sebaiknya digunakan hanya untuk kebutuhan belanja dan konsumsi, sedangkan sisanya dialihkan ke investasi. Pernyataan ini kontras dengan langkah sang ayah, Purbaya yang baru saja memamerkan capaian Coretax sebagai sistem perpajakan baru yang dianggap sudah berbeda.
Pandangan tersebut muncul di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap aset kripto sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan mata uang. Meski begitu, sejumlah ekonom tetap mengingatkan bahwa Bitcoin memiliki volatilitas tinggi dan belum bisa disamakan dengan instrumen safe haven konvensional seperti emas atau dolar AS.
Sementara itu, kondisi rupiah hari ini tampaknya semakin tertekan. Dolar Singapura sempat menyentuh level psikologis Rp14.000 per 1 SGD — level baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi ini mengulang skenario yang sempat diulas dalam pelemahan rupiah terhadap dolar Singapura dan ringgit Malaysia. Berdasarkan data Tradingview, setelah sempat bikin panik di level Rp14.000, kurs rupiah perlahan mencoba bangkit ke level Rp13.982 pada pukul 09.51 WIB.
Dolar AS juga tak kalah ganas. Greenback sukses menguat 0,11% ke level Rp17.864 pada pukul 09.55 WIB. Rupiah langsung loyo dan melemah hingga 6,93% sepanjang tahun 2026 berjalan. Dolar AS diproyeksikan bakal terus mengacak-ngacak rupiah pada rentang pergerakan Rp17.813 hingga Rp17.837. Dampak langsungnya sudah terasa, seperti yang terjadi pada pengelola dapur umum yang khawatir gizi MBG tak optimal akibat kenaikan harga bahan pangan.
Di tengah tekanan ini, pernyataan Yudo Sadewa soal Bitcoin memancing perdebatan publik tentang masa depan mata uang digital versus mata uang fiat di Indonesia. Bagi generasi muda yang melek teknologi, Bitcoin mungkin menjadi jawaban atas ketidakpastian ekonomi. Namun bagi sebagian besar masyarakat, rupiah tetap menjadi urat nadi kehidupan sehari-hari yang tak tergantikan.