Friday, May 29, 2026
Ekonomi

Rupiah Ambruk ke Rekor Terlemah Terhadap Dolar Singapura dan Ringgit Malaysia

Jakarta — Nilai tukar rupiah memperpanjang pelemahannya dan kini menembus level terlemah sepanjang masa bukan hanya terhadap dolar AS, tapi juga terhadap mata uang regional. Dolar Singapura dan ringgit Malaysia masing-masing mencatat rekor baru tertingginya terhadap rupiah pada perdagangan Jumat (29/5/2026).

Data Refinitiv menunjukkan rupiah melemah 0,52% ke level Rp14.000/SGD. Pencapaian ini menandai pertama kalinya dalam sejarah rupiah menyentuh level tersebut terhadap dolar Singapura. Tekanan ini bukan fenomena semalam — sejak akhir 2025, rupiah sudah terdepresiasi sekitar 7,97% terhadap mata uang Singapura yang kala itu berada di Rp12.957,64/SGD.

Situasi terhadap ringgit Malaysia bahkan lebih mengkhawatirkan. Per pukul 09.47 WIB, rupiah merosot 1,01% ke level Rp4.502,95/MYR — menembus level psikologis Rp4.500/MYR untuk pertama kalinya. Sepanjang 2026, rupiah sudah kehilangan hampir 10% nilainya terhadap ringgit. Dalam kurun waktu kurang dari 30 hari sejak 1 Mei 2026, pelemahan sudah mencapai 3,68%.

Penguatan ringgit tidak terlepas dari kondisi neraca perdagangan Malaysia yang tetap sehat. Data Department of Statistics Malaysia mencatat total perdagangan Negeri Jiran pada Maret 2026 tumbuh 9,3% year-on-year menjadi MYR273,0 miliar. Ekspor naik 8,3% dan surplus perdagangan tetap terjaga di MYR24,6 miliar meski sedikit menyempit.

Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, menilai ekonomi Malaysia masih menunjukkan daya tahan yang kuat. Estimasi awal menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto atau PDB Malaysia pada kuartal I-2026 berada di atas 5%.

“Dengan demikian, ekonomi Malaysia berada dalam posisi yang kuat untuk menghadapi tantangan saat ini akibat lonjakan harga minyak karena perang di Iran,” kata Mohd Afzanizam, dikutip dari Bernama.

Ekspor nominal Malaysia tumbuh 12,7% pada kuartal I-2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 11,0% pada kuartal sebelumnya. Kondisi ini memberikan tambahan tenaga bagi ringgit dari sisi kepercayaan investor asing yang relatif terjaga.

Sebaliknya, di Indonesia, pasar masih menghadapi sejumlah tantangan yang beririsan langsung dengan persepsi investor terhadap prospek ekonomi nasional. Salah satu sorotan utama adalah kekhawatiran terhadap pengelolaan fiskal negara.

Posisi defisit APBN pada 2025 tercatat mencapai 2,92% terhadap PDB — sangat dekat dengan batas maksimal 3% yang diatur undang-undang. Kondisi ini membuat pasar semakin sensitif terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia. Di tengah tekanan global yang masih tinggi, kepercayaan investor menjadi faktor krusial bagi stabilitas rupiah. Situasi ini juga berdampak pada pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang menembus Rp17.865.

Pelemahan rupiah terhadap mata uang regional ini menambah daftar tantangan bagi otoritas moneter. Bank Indonesia dihadapkan pada tekanan ganda: menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. Harga komoditas seperti minyak mentah yang melonjak akibat konflik di Timur Tengah turut memberikan beban tambahan bagi neraca pembayaran Indonesia.

Sementara itu, harga BBM di seluruh SPBU yang berlaku hari ini juga menjadi perhatian masyarakat, mengingat kenaikan harga minyak global berpotensi menekan anggaran subsidi energi pemerintah. Tak ayal, upaya pemerintah memperketat penerimaan pajak menjadi semakin krusial di tengah pelemahan nilai tukar ini.

Para pelaku pasar akan mencermati langkah-langkah Bank Indonesia dalam beberapa pekan ke depan, termasuk kemungkinan intervensi pasar atau penyesuaian suku bunga acuan. Stabilitas rupiah terhadap mata uang regional maupun dolar AS akan menjadi barometer utama kesehatan ekonomi Indonesia menjelang paruh kedua 2026.