Friday, May 29, 2026
Ekonomi

Rupiah Pecahkan Rekor Baru, Merosot ke Rp 17.859 per Dolar AS

Jakarta — Rupiah kembali mencatat rekor terburuk sepanjang sejarah pada Kamis (28/5/2026). Mata uang Garuda ini merosot ke Rp 17.859 per dolar AS di sesi perdagangan pagi, melemah 58 poin atau 0,33 persen dari penutupan sebelumnya.

Data Bloomberg pukul 09:21 WIB menunjukkan tekanan jual terhadap rupiah belum mereda. Pelemahan ini terjadi di tengah ketidakpastian eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang terus memanas, ditambah kekhawatiran pasar terhadap kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Purbaya Yakin APBN Aman

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini belum mengancam stabilitas fiskal negara. Ia menyatakan pemerintah telah mengantisipasi skenario pelemahan nilai tukar sejak awal perencanaan, termasuk dalam simulasi asumsi harga minyak dunia yang lebih tinggi.

“Kita udah hitung. Pada waktu simulasi USD 102 per barel itu asumsi rupiahnya juga sudah kita perhitungkan,” ujarnya di Kantor Ditjen Pajak, Jakarta, Rabu (27/5).

Purbaya menambahkan bahwa kondisi pasar obligasi pemerintah masih relatif terkendali meski rupiah tertekan. Menurut dia, pergerakan imbal hasil atau yield obligasi justru menunjukkan tren penurunan yang menjadi penanda kestabilan di tengah gejolak.

“Jadi enggak ada masalah. Saya enggak harus hitung ulang APBN-nya. Walaupun rupiah melemah, kan pertumbuhan yield bond-nya turun,” kata dia.

Volatilitas Pasar Makin Tajam

Pelemahan rupiah kali ini memperpanjang tren negatif yang sudah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp 17.854 per dolar AS dengan sorotan dari lembaga pemeringkat internasional terkait kontroversi pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Kombinasi antara faktor eksternal berupa ketegangan geopolitik Timur Tengah dan faktor internal terkait kebijakan fiskal menjadi pemicu utama tekanan berkelanjutan terhadap mata uang domestik. Pelaku pasar kini menantikan respons lebih lanjut dari otoritas moneter dan fiskal untuk menstabilkan nilai tukar.

Baca juga: Purbaya Stres Hadapi Dolar Rp17.800, Tapi Klaim APBN Tetap Aman