Transaksi Jumbo Rp50 Triliun Goyang BEI, Isu DHE Picu Aksi Panik Investor
Jakarta — Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat transaksi senilai Rp50,15 triliun pada perdagangan Jumat (29/5/2026), angka yang tergolong jumbo dan menandakan aktivitas luar biasa dari pelaku pasar. Volume perdagangan mencapai 47,21 miliar saham dengan frekuensi 2,38 juta kali transaksi.
Lonjakan aktivitas tersebut bersamaan dengan volatilitas tinggi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks sempat melesat 87,69 poin atau 1,43% ke level 6.217,88 pada sesi perdagangan pertama, namun berbalik anjlok menjelang penutupan dan ditutup turun tipis 2,8 poin (-0,05%) di level 6.127,38. Kejatuhan di detik-detik akhir ini memperpanjang tren koreksi IHSG sejak jelang libur Idul Adha.
Dari 817 saham yang aktif diperdagangkan, 271 di antaranya menguat, 409 melemah, dan 137 stagnan. Analis Doo Financial Lukman Leong menilai, anomali transaksi hari itu dipicu oleh aksi penyesuaian posisi investor menjelang kebijakan strategis pemerintah yang akan berlaku awal Juni.
“Termasuk implementasi transisi kebijakan DHE dan export satu pintu per 1 Juni,” ujar Lukman kepada CNBC Indonesia, Jumat (29/5/2026).
Pelaku pasar, lanjut Lukman, tampaknya mulai menyesuaikan portofolio untuk mengantisipasi potensi dampak kebijakan tersebut terhadap likuiditas dolar domestik, nilai tukar rupiah, dan prospek emiten eksportir maupun komoditas. Kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) ini mengharuskan eksportir menyimpan sebagian hasil penjualan dalam bentuk dolar di dalam negeri, yang berpotensi mengubah pola aliran modal asing.
Analis MNC Sekuritas Herditya membenarkan bahwa pergerakan IHSG hari itu cenderung volatile dan rawan koreksi. “Dapat kita cermati bersama pada pre-opening sempat berada di zona merah dan sepanjang hari menghijau lalu ditutup terkoreksi tipis,” ungkapnya.
Di tengah tekanan dari emiten perbankan besar, emiten konglomerasi justru mencatat penguatan signifikan. Grup Barito menjadi aktor utama dengan nilai transaksi yang mencolok, yakni TPIA sebesar Rp8,6 triliun, BREN Rp4,5 triliun, BRPT Rp4,1 triliun, CUAN Rp2,4 triliun, PTRO Rp2,2 triliun, dan CDIA Rp656 miliar.
Sementara itu, saham-saham perbankan dan emiten berkapitalisasi besar tetap mendominasi dengan angka transaksi yang juga fantastis. BBCA tercatat paling aktif dengan Rp11,64 triliun, diikuti AMMN Rp8 triliun, BBRI Rp6,4 triliun, TLKM Rp5 triliun, ASII Rp4,8 triliun, dan BMRI Rp3,6 triliun.
Aksi jual-beli masif ini menunjukkan bahwa investor institusi dan asing sedang melakukan rotasi portofolio besar-besaran menjelang berlakunya kebijakan DHE per 1 Juni. Transaksi jumbo senilai Rp50 triliun menjadi cerminan kecemasan sekaligus strategi adaptif pasar terhadap perubahan fundamental yang akan mengubah lanskap perdagangan valas dan ekspor Indonesia.