4 Perang di Tengah Idul Adha, Hari Raya Kurban Penuh Luka dan Keprihatinan
Jakarta — Tidak semua umat Muslim di dunia bisa merayakan Idul Adha dengan penuh kebahagiaan tahun ini. Di tengah suara takbir yang menggema, sejumlah konflik bersenjata masih berkecamuk di berbagai belahan dunia, mengubah momen sakral ini menjadi hari yang penuh keprihatinan.
Sejak empat dekade terakhir, dunia setidaknya pernah menyaksikan empat kali perayaan Idul Adha berlangsung di tengah situasi perang. Perang-perang tersebut tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi global, harga minyak, hingga tatanan geopolitik internasional.
Perang Teluk: Tiga Konflik dalam Tiga Dekade
Kawasan Teluk Persia menjadi pusat tiga perang besar dalam kurun 31 tahun terakhir. Perang Teluk I meletus pada Agustus 1990 hingga Februari 1991, namun tidak bertepatan dengan Idul Adha karena hari raya tersebut jatuh pada Juli 1990 dan Juni 1991.
Perang Teluk II atau Perang Irak dimulai pada 20 Maret 2003 di bawah Presiden George W. Bush dengan dalih senjata pemusnah massal. Konflik ini berlangsung hingga 18 Desember 2011, memaksa warga Irak merayakan Idul Adha selama delapan tahun dalam suasana suram.
Ketika Idul Adha tiba pada Februari 2004, perang belum benar-benar usai meski AS telah menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein. Irak saat itu tidak lagi menghadapi perang konvensional, melainkan gelombang perang gerilya dan pemberontakan bersenjata yang menyebar di berbagai wilayah.
Afghanistan: Dua Dekade Konflik Tak Berujung
Perang Afghanistan bermula dari serangan 11 September 2001 yang mengguncang dunia. Kelompok teroris al-Qaeda membajak pesawat dan menabrakkannya ke gedung World Trade Center serta Pentagon, menewaskan ribuan orang.
Washington menuduh pemimpin al-Qaeda, Osama bin Laden, bersembunyi di Afghanistan dan dilindungi rezim Taliban. Kurang dari sebulan kemudian, pada 7 Oktober 2001, AS bersama sekutunya melancarkan invasi besar-besaran. Taliban jatuh dengan cepat, tetapi perang yang awalnya diperkirakan singkat justru berubah menjadi konflik panjang selama dua dekade.
Pada 2002, Idul Adha jatuh pada 22 Februari, hanya tiga bulan setelah invasi AS. Penduduk Afghanistan harus merayakan hari raya dalam suasana perang selama bertahun-tahun setelahnya.
Gaza: Idul Adha di Tengah Puing-Puing
Perang Gaza meletus pada 7 Oktober 2023 dan belum berakhir hingga saat ini. Penduduk Palestina harus merayakan Idul Adha pada Juni 2024, Juni 2025, dan Mei 2026 dengan suasana penuh keprihatinan. Kota-kota di Jalur Gaza porak-poranda, sementara bantuan kemanusiaan sulit masuk ke wilayah yang terkepung.
Iran: Perang Baru yang Belum Mereda
Perang Iran meletus sejak 28 Februari 2026. Setelah hampir tiga bulan, konflik belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir meskipun gencatan senjata tengah gencar dilakukan. Tahun ini menjadi yang pertama kali warga Muslim Iran merayakan Idul Adha setelah perang meletus.
Di Iran, Idul Adha kerap disebut Eid-e Ghorban dan menjadi hari libur nasional. Namun atmosfer perayaannya tahun ini jauh berbeda — lebih sunyi dan penuh kekhawatiran dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Konflik-konflik ini mengingatkan bahwa momen kebersamaan dan pengorbanan dalam Idul Adha tidak selalu bisa dirasakan oleh semua umat Muslim. Di saat sebagian dunia merayakan dengan penuh suka cita, sebagian lainnya masih berjuang mempertahankan hidup di tengah kerasnya perang.