Farah Diba, Permaisuri Terakhir Iran yang 47 Tahun Terasing di Paris
Jakarta — Farah Diba, perempuan yang pernah menjadi simbol kemewahan Dinasti Pahlavi, kini menjalani hari-harinya sebagai janda tua berusia 87 tahun di sebuah apartemen mewah Paris. Sudah 47 tahun ia terasing dari tanah kelahirannya, Iran, sejak revolusi 1979 menggulingkan rezim monarki yang dipimpin suaminya, Mohammad Reza Shah Pahlavi.
“Permaisuri Iran tinggal sendirian di kemewahan yang tenang di sebuah apartemen Paris dengan pemandangan luas melintasi Sungai Seine dan landmark kota besar di seberangnya,” demikian laporan yang menggambarkan kehidupan Farah saat ini.
Perempuan kelahiran Teheran, 14 Oktober 1938, ini lahir dari keluarga kaya Iran. Putri tunggal Sohrab Diba dan Farideh Ghotbi itu pergi ke Prancis untuk kuliah di Ecole d’Architecture pada 1959. Di sinilah takdir mempertemukannya dengan Shah Pahlavi dalam sebuah resepsi kedutaan. Pertunangan mereka diumumkan 1 Desember 1959, dan tiga minggu kemudian mereka resmi menikah.
Empat Anak dari Pernikahan Kerajaan
Selama dua dekade menjadi permaisuri, Farah melahirkan empat anak: Putra Mahkota Reza (1960), Putri Farahnaz (1963), Pangeran Alireza (1966), dan Putri Leila (1970). Ia juga aktif memimpin 26 organisasi di bidang pendidikan, kesehatan, olahraga, dan budaya, serta menjadi pelindung 12 lembaga seni di Iran.
Ketika revolusi meletus pada Januari 1979, seluruh keluarga kerajaan harus angkat kaki dari Iran. “Pada 16 Januari 1979, Permaisuri Farah dan Shah meninggalkan Iran untuk mengasingkan diri,” demikian tertulis di laman pribadinya, farahpahlavi.org.
Kampung Halaman yang Tak Pernah Kembali
Semenjak Iran berganti dari monarki ke teokrasi, Farah tidak pernah menginjakkan kaki lagi di negara kelahirannya. Meski demikian, ia mengaku masih mengikuti perkembangan Iran, terutama soal seni dan kebudayaan.
“Pemandangan itu bukanlah pemandangan yang mudah membuat siapa pun bosan, tetapi Farah Diba Pahlavi mengatakan bahwa ia akan dengan senang hati menukarnya dengan satu pandangan terakhir ke kampung halamannya,” tulis laporan tersebut.
Kini, di usia yang tak lagi muda, janda Shah terakhir Iran itu tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa suatu hari ia akan kembali ke tanah kelahirannya. Sebuah harapan yang sudah ia genggam selama hampir setengah abad pengasingan.