Friday, May 29, 2026
Energi

Harga Batu Bara Turun: Panas Mendidih di Asia Bakal Jadi Penopang?

Jakarta — Harga batu bara global berbalik turun pada perdagangan Rabu (27/5/2026) setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan. Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$138,2 per ton atau melemah 0,86% dari hari sebelumnya.

Koreksi ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga melonjak 2,16% ke US$139,4 per ton. Meski terkoreksi, harga batu bara masih bertahan di level yang relatif tinggi karena pasar masih mencermati dua sentimen utama yang saling bertolak belakang.

Kecelakaan Tambang China Picu Kekhawatiran Pasokan

Di China, kecelakaan tambang di Shanxi — salah satu pusat produksi batu bara utama — memicu inspeksi keselamatan besar-besaran. Sejumlah tambang menghentikan operasi sementara, sehingga pasar sempat khawatir pasokan batu bara akan semakin terbatas.

Kekhawatiran itu semakin besar karena China juga akan memulai kampanye tahunan keselamatan pertambangan pada awal Juni. Jika inspeksi diperluas, produksi batu bara berpotensi kembali terganggu dan menekan pasokan global.

Namun, koreksi harga pada Rabu menunjukkan pasar mulai menimbang kemungkinan produksi bisa pulih setelah inspeksi awal selesai. Jika penghentian operasi tidak diperluas secara besar-besaran, tekanan pasokan dapat mereda dan laju kenaikan harga batu bara tertahan.

Gelombang Panas India Dorong Permintaan Listrik ke Rekor

Di sisi lain, permintaan batu bara masih mendapat penopang kuat dari India. Gelombang panas ekstrem membuat kebutuhan listrik di negara tersebut melonjak signifikan, sehingga pasokan batu bara ke pembangkit listrik menjadi perhatian utama.

Coal India, perusahaan tambang batu bara milik negara India, sebelumnya meminta anak-anak usahanya meningkatkan pengiriman batu bara ke pembangkit listrik. Langkah ini dilakukan untuk menghindari kekurangan pasokan saat permintaan listrik mencapai rekor tertinggi.

Sejumlah pembangkit listrik di India juga dilaporkan memiliki stok batu bara dalam kondisi kritis, yakni hanya cukup untuk kebutuhan kurang dari satu pekan. Permintaan listrik puncak India sebelumnya mencapai rekor 270,8 gigawatt (GW). Meski India terus menambah kapasitas energi non-fosil, batu bara masih menyumbang lebih dari 70% pembangkit listrik negara tersebut.

China Selatan Pecat Rekor Beban Listrik Lebih Cepat dari Biasanya

Sentimen permintaan juga datang dari China. Gelombang panas yang melanda wilayah selatan negara tersebut mulai mendorong lonjakan kebutuhan listrik, terutama karena penggunaan pendingin ruangan meningkat tajam.

China Southern Power Grid mencatat beban listrik menyentuh rekor tertinggi baru pada Senin (25/5/2026) pukul 20.21 waktu setempat. Beban listrik naik 1,83 GW dari rekor sebelumnya, atau meningkat 0,71%.

Kenaikan ini terjadi lebih cepat dari pola biasanya. Dalam periode 2020 hingga 2025, puncak beban listrik tahunan umumnya terjadi pada Juni atau Juli. Namun tahun ini, rekor sudah tercipta pada akhir Mei — menunjukkan permintaan listrik di kawasan selatan China meningkat tajam bahkan sebelum musim panas memasuki periode puncaknya.

Beban listrik di jaringan Guangxi dan Hainan juga mencetak rekor baru pada malam yang sama. Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa gelombang panas di Asia akan terus menjadi penopang utama harga batu bara dalam waktu dekat.