Rusia Resmi Beri Wewenang Bank Sentral dan Lembaga Keuangan Tembak Jatuh Drone
Rusia resmi memberi wewenang kepada bank sentral dan berbagai lembaga keuangan untuk mempertahankan diri dari serangan drone. Parlemen Rusia mengesahkan undang-undang baru yang memungkinkan lembaga-lembaga tersebut mengoperasikan sistem pertahanan anti-drone secara mandiri tanpa harus menunggu campur tangan pasukan khusus.
Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya intensitas serangan udara dari Ukraina yang mengincar infrastruktur strategis Rusia. Dengan wilayah udara yang membentang luas dari Eropa hingga Asia, Moskow kesulitan menjaga seluruh titik vital dari ancaman pesawat tak berawak jarak jauh.
Siapa Saja yang Diberi Wewenang?
Undang-undang yang disahkan Selasa (26/5/2026) itu mencakup lembaga-lembaga utama negara. Sberbank, bank terbesar Rusia, termasuk di antara entitas yang diizinkan mengawasi operasi pertahanan drone sendiri. Selain itu, Asosiasi Pengumpulan Uang Tunai Rusia dan Layanan Pos Khusus — yang menangani pengiriman surat-menyurat rahasia negara — juga masuk dalam daftar lembaga berwenang.
Karyawan di lembaga-lembaga tersebut akan “diberdayakan untuk mencegah pengoperasian kendaraan udara tak berawak, kapal dan peralatan bawah air dan permukaan, kendaraan tak berawak, dan sistem tak berawak otomatis lainnya.”
Strategi Pertahanan Berlapis
Ketua Komite Pasar Keuangan Duma Negara, Anatoly Aksakov, memaparkan mekanisme pertahanan yang akan diterapkan. Lembaga-lembaga akan menggunakan pengacakan sinyal untuk mempersulit drone menargetkan fasilitas, serta metode penembakan jatuh langsung untuk melindungi target yang relevan.
“Pertama, pengacakan akan digunakan untuk mempersulit [UAV] menargetkan dan menyerang target yang relevan, … Selain itu, kami juga akan menggunakan cara untuk menembak jatuh drone ini, sehingga melindungi target yang relevan,” katanya kepada Radio RBC.
Soal pendanaan, Aksakov menegaskan bahwa masing-masing lembaga bertanggung jawab atas biaya sistem pertahanannya sendiri.
“Jika itu bank sentral, maka bank sentral akan membayar; jika itu Sberbank, maka Sberbank akan membayar,” kata Aksakov seperti dikutip CNBC International, Rabu (27/5/2026).
Perang yang Makin Meluas
Kedua negara, Rusia maupun Ukraina, membantah secara sengaja menargetkan infrastruktur sipil. Namun kenyataannya, serangan terhadap fasilitas penting terus terjadi di kedua belah pihak, bahkan perang siber turut memperkeruh situasi.
Kebijakan baru ini muncul di saat upaya perdamaian antara Moskow dan Kyiv mandek. Fokus Amerika Serikat yang tengah tersita operasi militer terhadap Iran membuat mediasi internasional untuk konflik Rusia-Ukraina makin berat terwujud. Skala konflik yang terus meningkat memaksa Rusia mencari cara baru untuk melindungi aset-aset kritisnya dari ancaman udara yang semakin canggih.