Friday, May 29, 2026
Internasional

Trump Ancam Ledakkan Oman Jika Berkoalisi dengan Iran, WNI Diimbau Waspada

Jakarta — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak mengancam akan “meledakkan” Oman, sekutu lamanya di kawasan Teluk, jika negara tersebut berpihak pada Iran dalam konflik terkait Selat Hormuz. Pernyataan mengejutkan itu dilontarkan Trump saat rapat kabinet di Gedung Putih, sebagaimana dikutip AFP, Jumat (29/5/2026).

“Tidak, selat itu akan terbuka untuk semua orang. Ini perairan internasional dan Oman akan berperilaku seperti orang lain atau kita harus meledakkan mereka. Mereka mengerti itu, mereka akan baik-baik saja,” kata Trump kepada wartawan.

Ancaman tersebut memicu kekhawatiran serius, khususnya bagi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di kawasan Timur Tengah. Kementerian Luar Negeri RI belum merilis peringatan resmi terkait eskalasi ini, namun sejumlah pegiat komunitas WNI di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah mengimbau sesama warga untuk meningkatkan kewaspadaan.

Ketegangan memang sedang memuncak di kawasan tersebut. Iran sebelumnya mengindikasikan upaya untuk menerapkan realitas baru di Selat Hormuz, jalur air strategis yang dilalui seperlima minyak dunia. Teheran berencana mengenakan bea masuk pada kapal yang melintas dan membagi pendapatannya dengan Oman. Kondisi ini tidak terpisah dari konflik militer yang lebih luas di kawasan, di mana Israel juga tengah melakukan ekspansi militer besar-besaran ke wilayah Gaza.

Situasi ini menjadi salah satu pemicu konflik berkepanjangan antara AS dan Iran. Sebelumnya, Pasukan Udara AS dan Israel telah melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Eskalasi terbaru ini menambah panjang daftar ketegangan di kawasan Teluk yang sudah berlangsung berbulan-bulan, termasuk serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS minggu ini.

Kejadian ini juga mengingatkan pada kebiasaan Trump yang kerap membuat pernyataan membingungkan soal kebijakan luar negeri. Pada kesempatan berbeda, Trump sempat mencampuradukkan Iran dengan Venezuela — dua negara yang sama sekali berbeda dalam konflik saat ini.

Gedung Putih belum memberikan klarifikasi resmi soal apakah Trump salah menyebut nama Oman, atau memang benar mengancam sekutunya sendiri. Departemen Luar Negeri AS justru memposting klip dan transkrip komentar Trump tentang Oman tanpa koreksi atau klarifikasi apa pun. Ketegangan ini juga berada dalam konteks lebih luas ketidakpastian global, di mana NATO baru saja berjanji mempertahankan setiap jengkal wilayahnya usai drone Rusia menghantam Rumania.

Ancaman ini berpotensi mengubah peta geopolitik di kawasan Teluk secara signifikan. Oman selama ini dikenal sebagai mediator netral dalam berbagai konflik regional, termasuk perundingan damai AS-Iran. Jika Washington benar-benar mengambil langkah agresif terhadap Muscat, dampaknya bisa merembet ke stabilitas ekonomi global, terutama terkait pasokan energi dan harga minyak dunia.

Situasi ini menggarisbawahi betapa rapuhnya keamanan di Selat Hormuz saat ini, sebuah jalur vital yang kehilangannya bisa memukul perekonomian dunia. Konflik AS-Iran yang belum mereda, kini ditambah dengan ancaman terhadap negara mediator, menempatkan kawasan Teluk di ambang krisis yang lebih besar, dengan dampak yang melampaui batas-batas kawasan Timur Tengah itu sendiri.