Friday, May 29, 2026
Internasional

AS Kembali Serang Iran Usai Jalan Buntu Lerai Konflik di Selat Hormuz

Jakarta — Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap operasi drone Iran di kawasan Selat Hormuz. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump membantah laporan Iran soal adanya kesepakatan untuk memulihkan lalu lintas kapal melalui jalur air strategis tersebut.

Seorang pejabat AS yang tidak bersedia disebutkan namanya mengonfirmasi kepada Reuters bahwa militer menembak jatuh empat drone serang Iran dan menyerang stasiun kendali darat di kota pelabuhan Bandar Abbas. Stasiun tersebut rencananya akan meluncurkan drone kelima.

“Tindakan ini terukur, murni defensif dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata,” kata pejabat itu.

Gencatan senjata antara AS dan Iran sendiri sudah berlangsung sejak awal April lalu. Namun eskalasi terbaru ini menunjukkan bahwa situasi di kawasan tersebut masih sangat rapuh.

Iran Balas Tembak, Kapal Tanker Dipaksa Putar Balik

Sementara itu, Kantor berita Tasnim Iran melaporkan sisi berbeda dari konflik tersebut. Angkatan Laut Garda Revolusi Islam dilaporkan menembak ke arah kapal tanker minyak AS yang mencoba melintasi Selat Hormuz dan memaksa kapal itu untuk berbalik arah.

Sumber militer Iran juga menyebutkan bahwa militer AS kemudian menyerang lahan terbuka di sekitar Bandar Abbas. Beruntung, tidak ada korban jiwa atau kerusakan signifikan yang dilaporkan dari insiden tersebut.

Pada Kamis (28/5) pagi, empat kapal lagi dilaporkan mencoba melintasi selat tersebut, namun kembali dipulangkan oleh tembakan peringatan yang diarahkan ke arah mereka.

Ancaman Trump Kepada Oman

Situasi makin memanas ketika Trump menggelar rapat kabinet yang dihadiri media. Dalam kesempatan itu, ia menepis laporan televisi pemerintah Iran yang menyatakan telah memperoleh draf tidak resmi perjanjian untuk memulihkan pelayaran komersial melalui selat.

Draf tersebut disebutkan akan mengembalikan lalu lintas kapal ke tingkat sebelum perang dalam waktu satu bulan, dengan Iran dan Oman bersama-sama mengelola lalu lintas.

Namun Trump tegas menolak skenario itu. Ia bahkan mengancam Oman, negara yang memiliki hubungan militer dan ekonomi selama beberapa dekade dengan AS.

“Tidak ada yang akan mengendalikan (selat),” kata Trump.

“Ini perairan internasional dan Oman akan berperilaku seperti negara lain atau kita harus meledakkan mereka. Mereka mengerti itu, mereka akan baik-baik saja,” sambungnya.

Sanksi Baru dan Kesenjangan Kesepakatan

Tidak lama setelah pernyataan Trump, Departemen Keuangan AS menambahkan Otoritas Selat Teluk Persia, badan Iran yang dibentuk untuk mengelola jalur melalui selat tersebut, ke dalam daftar sanksi karena dianggap menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional AS.

Ebrahim Azizi, Kepala Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran menegaskan bahwa retorika Trump tidak akan memaksa Iran mundur dari tuntutannya.

“Jelas sekali bahwa Trump, yang mencari jalan keluar dari kebuntuan strategis ini, bergantian antara mengeluarkan ancaman dan menyerukan kesepakatan,” kata Azizi dalam sebuah unggahan di X.

Perang yang telah berlangsung selama tiga bulan ini telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan harga energi global melonjak tajam sejak dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS dan Israel. Pembicaraan untuk mengakhiri konflik masih terhambat oleh beberapa isu krusial, termasuk pembongkaran kapasitas nuklir Iran, penguasaan selat, dan pencabutan sanksi internasional.