Saturday, May 30, 2026
Ekonomi

Rupiah Anjlok di Rp 17.836 Imbas Perang Iran-AS dan Kekhawatiran Investor Soal Kopdes Merah Putih

Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus tertekan, ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Kurs spot rupiah tercatat di Rp 17.836 per dolar AS hingga pukul 09.03 WIB, melemah 9 poin atau 0,05 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.827 per dolar AS.

Pelemahan ini tidak terlepas dari kombinasi tekanan geopolitik global dan isu domestik yang memburuk. Serangan militer AS ke wilayah selatan Iran di tengah klaim negosiasi damai menjadi pemicu utama amblasnya nilai tukar rupiah. Harga minyak dunia melonjak tajam, dengan minyak Brent menyentuh US$97 per barel dan minyak WTI di US$91 per barel, masing-masing naik sekitar 3 persen dalam sepekan.

Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai Bank Indonesia sudah berusaha keras melakukan intervensi di pasar internasional, namun faktor eksternal terlalu kuat mempengaruhi sentimen pasar. “Tapi faktor eksternal lebih kuat mempengaruhi sentimen pasar,” ujarnya dalam riset harian yang dirilis Jumat, 29 Mei 2026.

Situasi makin runyam karena perang Rusia-Ukraina kembali memanas setelah kedua pihak aktif saling serang. Gangguan logistik untuk sumber energi tidak hanya terjadi di Timur Tengah, tapi juga merambat ke kawasan Eropa. Kenaikan harga bahan bakar ini sebenarnya juga menyulitkan AS sendiri, karena memicu kekhawatiran The Fed terhadap melonjaknya inflasi.

Pelaku pasar kini memperkirakan bank sentral AS masih akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir tahun ini. Sebagian analis bahkan memprakirakan kenaikan suku bunga lanjutan, yang otomatis mendorong penguatan dolar AS dan semakin menekan rupiah.

Selain tekanan eksternal, isu domestik turut memperparah kondisi. Persoalan manajemen Koperasi Desa Merah Putih yang berpotensi merugikan negara hingga triliunan rupiah membuat kepercayaan investor asing terkikis. Investor menarik dananya dari pasar Indonesia, mempercepat laju pelemahan rupiah.

Di sisi lain, BI sudah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan bank sentral memiliki berbagai instrumen untuk meredam volatilitas pasar. Namun, upaya BI tersebut belum cukup membendung tekanan dari luar negeri yang terus membesar.

Dampak pelemahan rupiah ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Pengamat ekonomi sebelumnya memproyeksikan bahwa jumlah PHK pada 2026 bisa menembus 100 ribu orang jika kondisi ini berlanjut. Biaya impor yang membengkak akibat melemahnya rupiah berpotensi memukul daya saing industri manufaktur dalam negeri.

Pemerintah juga tengah berupaya meredam kekhawatiran publik terkait stabilitas harga bahan bakar. Kementerian ESDM menegaskan stok pertalite dan solar masih melimpah meski rupiah nyaris menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Harga BBM subsidi dipastikan tetap aman hingga Juni mendatang.

Pekan depan menjadi penentu bagi pergerakan rupiah. Pasar akan mencermati perkembangan konflik Iran-AS, respons The Fed terhadap data inflasi terbaru, serta sejauh mana pemerintah Indonesia mampu meredam kepanikan investor akibat isu Kopdes Merah Putih. Jika tekanan berlanjut, rupiah berpotensi menguji level Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat.