Bulog Pastikan Harga Ekspor Beras ke Malaysia di Atas HET, Petani Diproyeksi Untung
Jakarta — Perum Bulog memastikan harga ekspor beras Indonesia ke Malaysia akan ditetapkan di atas Rp16.000 per kilogram, melebihi harga eceran tertinggi (HET) domestik. Kebijakan ini diambil untuk melindungi kepentingan petani sekaligus memperkuat penerimaan negara dari sektor perdagangan pangan.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa penentuan harga ekspor beras mengacu pada arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. Indonesia tidak akan menjual beras ke pasar internasional dengan harga yang merugikan petani dalam negeri.
“Karena sesuai arahan Bapak Presiden (Prabowo Subianto) kemarin harga yang kita ekspor harus menguntungkan untuk petani, untuk bangsa dan negara kita,” ujar Rizal dilansir dari laman Antara, Sabtu (30/5/2026).
Harga ekspor beras Indonesia ke Malaysia berpotensi lebih tinggi dibandingkan penawaran awal dari pihak Malaysia yang berada di kisaran Rp16.000 per kilogram. Rizal optimistis harga final akan di atas level tersebut, sesuai kebijakan pemerintah yang mengedepankan keuntungan bagi produsen pangan lokal.
“Ya, insya Allah seperti itu ya, harga ekspor beras di atas Rp16.000 per kilogram,” katanya.
Kunjungan ke Sarawak Usai Idul Adha
Sebelum ekspor resmi dilakukan, Bulog bersama tim dari Kementerian Pertanian dijadwalkan melakukan kunjungan ke Sarawak, Malaysia, usai Idul Adha 2026. Kunjungan tersebut bertujuan membahas detail teknis ekspor, termasuk jumlah kebutuhan beras dan harga final yang akan disepakati kedua negara.
“Rencana habis Idul Adha ini dalam waktu dekat kami akan ke Sarawak Insya Allah dengan tim dari Kementerian Pertanian untuk sekaligus memastikan berapa jumlahnya dan berapa harga fiksnya,” ucap Rizal.
Kebijakan ekspor beras ini menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga stabilisasi harga pangan di dalam negeri. Sebelumnya, pemerintah juga telah menerbitkan perpres terkait Badan Layanan Umum untuk impor minyak dan LPG, yang menunjukkan keseriusan Indonesia mengelola rantai pasok pangan dan energi secara terintegrasi. Langkah ini sejalan dengan upaya memperkuat posisi perdagangan Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
Skema Distribusi Masih Dibahas
Selain harga, kedua pihak juga akan menentukan skema distribusi beras. Bulog membuka peluang pengiriman dilakukan langsung dari pelabuhan ke pelabuhan atau pembelian dilakukan pihak Malaysia melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
“Nanti kita setelah diskusi di sana (Malaysia). Apakah kita port to port atau mereka langsung beli di kita di Pelabuhan Priok,” jelasnya.
Meski optimistis ekspor segera terealisasi, Rizal menegaskan Bulog masih akan berkoordinasi dengan jajaran internal, termasuk direktur pemasaran serta Menteri Pertanian yang juga menjabat Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman. Pembahasan tersebut penting untuk menentukan harga terbaik sebelum ekspor resmi dilakukan.
“Ini untuk minta petunjuk yang terbaik seperti apa,” kata Rizal.
Rencana ekspor beras ke Malaysia ini menjadi sinyal positif bagi petani dalam negeri. Dengan harga jual yang dijamin di atas HET, pendapatan petani diproyeksikan meningkat signifikan. Kebijakan ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir pangan utama di kawasan, di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah yang belakangan melemah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS. Stabilisasi harga beras ekspor menjadi salah satu langkah strategis pemerintah menjaga daya beli masyarakat sekaligus menjaga cadangan pangan nasional tetap aman.