Rupiah Jadi Mata Uang Terburuk di Asia, Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Jakarta — Rupiah mencatat pelemahan terburuk di antara seluruh mata uang Asia sepanjang pekan ini, dengan nilai tukarnya nyaris menyentuh level Rp18.000 per dolar AS. Meski Bank Indonesia sudah menggelontorkan berbagai langkah stabilisasi termasuk menaikkan suku bunga acuan, tekanan terhadap mata uang Garuda belum juga mereda.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,51% ke posisi Rp17.865/US$ pada Jumat (30/5/2026). Sepanjang pekan, mata uang Indonesia merosot 0,99% secara point-to-point — angka yang menjadikannya pelemahan terdalam di kawasan Asia. Yen Jepang dan dolar Hong Kong memang juga melemah, namun hanya tipis. Di Asia Tenggara sekalipun, rupiah tetap yang paling lemah.
Sebaliknya, won Korea Selatan menjadi mata uang terkuat pekan ini dengan penguatan 0,86%, diikuti rupee India yang menguat 0,72%. Kontras ini mempertegas bahwa tekanan terhadap rupiah bukan semata-mata faktor global, melainkan juga ada dimensi domestik yang perlu diwaspadai.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin — yang menempatkan BI Rate di level 5,25% — diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar dari dampak memburuknya kondisi global. “Keputusan ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah, sekaligus menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap dalam sasaran 2,5±1%,” ujar Perry.
Namun penguatan rupiah hanya berlangsung sesaat. Rupiah sempat menguat pada hari pengumuman kenaikan suku bunga, tetapi sehari setelahnya kembali melemah. Hingga kini, mata uang Garuda masih terus menembus level terlemah sepanjang masa.
Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik akibat perang AS-Iran di Timur Tengah menjadi pemicu utama. Konflik ini membuat investor global cemas, terutama karena kawasan tersebut memiliki peran krusial bagi pasokan energi dunia. Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi nadi perdagangan minyak dan gas global, menjadi titik kritis yang selalu diawasi pasar.
Ketika kawasan ini terganggu, harga energi berpotensi melonjak, inflasi global bisa kembali naik, dan The Federal Reserve berpotensi lebih sulit menurunkan suku bunga. Dalam kondisi seperti ini, investor memilih aset yang dianggap paling aman — dolar AS. Indeks dolar (DXY) pun kembali menguat dan sempat menyentuh level 100, memberikan tekanan berat kepada mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Namun pelemahan rupiah yang lebih dalam dibandingkan mata uang Asia lainnya — termasuk ringgit Malaysia dan dolar Singapura — menunjukkan ada faktor domestik yang membuat rupiah lebih rentan.
Faktor kedua datang dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah. Realisasi defisit APBN 2025 yang mencapai 2,92% terhadap PDB, atau sekitar Rp695 triliun, sudah sangat dekat dengan batas maksimal 3% yang diatur undang-undang. Angka ini memberi sinyal bahwa ruang fiskal pemerintah semakin sempit, terutama ketika belanja negara tetap tinggi sementara penerimaan negara belum cukup kuat untuk mengimbanginya.
Selain fiskal, pasar juga mencermati rencana pemerintah memperkuat kendali atas ekspor komoditas strategis, termasuk batu bara dan minyak sawit. Aturan baru mengharuskan devisa hasil ekspor sumber daya alam disimpan penuh di bank-bank BUMN mulai 1 Juni 2026. Tujuannya memang untuk memperkuat pasokan valas di dalam negeri, namun perubahan besar seperti ini juga menimbulkan pertanyaan soal mekanisme pasar dan kepastian usaha.
Ketika komunikasi kebijakan dianggap belum cukup jelas, pasar cenderung memilih mengurangi risiko terlebih dahulu — permintaan terhadap dolar AS meningkat, sementara minat terhadap aset rupiah melemah.
Pelemahan rupiah yang berkepanjangan juga berpotensi berdampak luas ke sektor riil. Sebelumnya, pengamat telah memproyeksikan jumlah PHK di 2026 bisa menembus 100 ribu jika tekanan terhadap mata uang terus berlanjut tanpa solusi yang komprehensif dari pemerintah dan bank sentral.