Saturday, May 30, 2026
Ekonomi

10 Orang Terkaya Indonesia Mei 2026: Prajogo Pangestu Masih di Puncak

Jakarta — Perubahan dinamis terjadi dalam daftar orang terkaya di Indonesia per Mei 2026. Berdasarkan data Forbes terbaru, sejumlah konglomerat veteran masih bertahan di posisi teratas meski pasar saham mengalami koreksi signifikan sepanjang tahun berjalan.

Sektor energi, perbankan, hingga pertambangan tetap menjadi sumber utama kekayaan para taipan nasional. Namun fluktuasi harga komoditas global dan pelemahan rupiah yang terus merosot turut memengaruhi nilai aset beberapa pengusaha besar Tanah Air.

Prajogo Pangestu Pimpin dengan Kekayaan Rp372 Triliun

Nama Prajogo Pangestu masih berada di posisi puncak dalam daftar miliarder Indonesia. Bos Barito Group tersebut mengantongi kekayaan sekitar US$20,9 miliar atau setara Rp372 triliun dengan asumsi kurs Rp17.832 per dolar AS. Angka ini menempatkannya jauh di atas pesaing terdekat.

Di posisi kedua, Low Tuck Kwong dari sektor batu bara mempertahankan kekayaan US$16,5 miliar. Bisnis tambangnya masih menikmati warisan supercycle harga komoditas yang sempat melonjak beberapa tahun terakhir. Sementara keluarga Hartono — R. Budi Hartono dan Michael Hartono — masing-masing menguasai US$15,8 miliar dan US$15 miliar dari perbankan dan industri rokok.

Mariana Budiman: Kekayaan dari Data Center

Di antara nama-nama lama, Mariana Budiman mencuri perhatian dengan kekayaan sekitar US$6 miliar. Sumber kekayaannya berasal dari bisnis pusat data atau data center yang terus berkembang pesat di tengah gelombang digitalisasi Indonesia. Pertumbuhan kebutuhan layanan cloud mendorong valuasinya naik secara konsisten.

Di sektor lain, Anthoni Salim dari Grup Salim menempati posisi kelima dengan US$11,9 miliar dari lini bisnis yang terdiversifikasi. Tahir dan keluarga menyusul dengan US$9,7 miliar yang bersumber dari rumah sakit dan sektor keuangan. Sri Prakash Lohia dari sektor petrokimia mengisi posisi ketujuh dengan US$8,8 miliar.

Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Aset Kekayaan

Pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar AS memberikan dampak ganda bagi konglomerat Indonesia. Bagi mereka yang asetnya denominasi dolar seperti Prajogo Pangestu, nilai kekayaan dalam rupiah justru terdongkrak. Sebaliknya, pengusaha yang mayoritas asetnya dalam rupiah mengalami erosi nilai kekayaan.

Dua nama terakhir dalam daftar, Lim Hariyanto Wijaya Sarwono (US$5,3 miliar) dan Haryanto Tjiptodiharjo (US$5 miliar), masing-masing mengandalkan sektor perkebunan kelapa sawit, nikel, hingga manufaktur. Keduanya masih bertahan meski tekanan pada harga komoditas seperti emas dan energi memengaruhi sentimen pasar.

Daftar ini menjadi pengingat bahwa kekayaan konglomerat Indonesia sangat bergantung pada sektor sumber daya alam dan perbankan. Ketika ekonomi nasional menghadapi tantangan dari sisi perdagangan dan moneter, para taipan ini harus terus beradaptasi agar posisi mereka tetap tak tergoyahkan.