Como 1907 Dilarang Main di Stadion Sendiri, UEFA Minta Pindah ke Markas Jay Idzes
Cesc Fabregas punya mimpi besar bersama Como 1907. Klub yang beberapa tahun lalu masih bermain di divisi bawah Italia itu kini menembus Liga Champions untuk pertama kalinya dalam era modern. Namun, UEFA punya berita buruk: Stadion Giuseppe Sinigaglia belum layak untuk menggelar pertandingan kandang di kompetisi elite Eropa itu.
UEFA Tolak Stadion Como
Evaluasi UEFA terhadap kelayakan infrastruktur Como menghasilkan kesimpulan tegas. Stadion Giuseppe Sinigaglia, yang menjadi kebanggaan warga Como, hanya memiliki kapasitas sekitar 13.600 penonton. Angka itu jauh di bawah standar minimum yang diwajibkan untuk penyelenggaraan pertandingan Liga Champions.
Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi klub yang baru saja menorehkan sejarah. Perjalanan Como dari divisi bawah hingga ke panggung Liga Champions adalah salah satu kisah paling menarik dalam sepak bola Eropa musim ini, namun fasilitas stadion menjadi penghalang besar.
Prestasi Jay Idzes di Serie A musim lalu memang menunjukkan betapa kompetitifnya liga Italia. Bek Timnas Indonesia itu bahkan masuk dalam lima besar bek Asia termahal berkat penampilan impresifnya, sementara Como harus berjuang keras untuk bisa tampil di kompetisi yang sama di level klub.
Sassuolo Jadi Solusi Tunggal
Sebagai solusi, UEFA mengizinkan Como menggunakan Stadion Mapei, markas Sassuolo, untuk menggelar seluruh laga kandang mereka di Liga Champions musim depan. Stadion tersebut memiliki kapasitas lebih dari 23.000 penonton dan telah memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan UEFA.
Ironisnya, Sassuolo adalah klub yang dibela bek Timnas Indonesia, Jay Idzes. Artinya, meski berstatus sebagai tuan rumah, para pemain Como harus menjalani pertandingan kandang mereka jauh dari Kota Como dan bermain di markas klub yang dibela salah satu pemain Indonesia paling berpengaruh di Eropa.
Pencapaian Como musim ini sejalan dengan dinamika sepak bola Italia yang semakin kompetitif. Sementara PSG dan Arsenal bersiap bertarung di final Liga Champions musim ini, Como sudah menatap kampanye mereka di kompetisi yang sama untuk musim depan.
Kisah Inspiratif dari Divisi Bawah
Keputusan harus pindah stadion tidak menyuruti semangat Como. Klub yang dilatih Fabregas itu tetap optimistis menghadapi tantangan besar di Liga Champions. Keterbatasan fasilitas menjadi pengingat bahwa pencapaian sportif belum tentu diimbangi oleh kesiapan infrastruktur.
Bagi para penggemar Como, musim depan akan menjadi petualangan yang tak terlupakan. Meski harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk menonton tim kesayangan, tiket Liga Champions adalah hadiah yang tak ternilai dari perjalanan panjang klub mereka.