Saturday, May 30, 2026
Internasional

Gedung Putih Luncurkan Situs Aliens.gov, Alien yang Ternyata Bukan dari Luar Angkasa

Jakarta — Gedung Putih merilis sebuah situs web bernama Aliens.gov yang langsung menarik perhatian publik. Tampilan situs tersebut begitu misterius dengan teks hijau bernuansa gelap, seolah mengajak pengunjung menyaksikan pengungkapan rahasia peradaban luar angkasa. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, istilah “alien” yang dimaksud ternyata bukan makhluk dari planet lain.

Situs Aliens.gov merupakan laman penegakan imigrasi bertema luar angkasa yang diluncurkan pemerintahan Presiden Donald Trump. Alih-alih memuat dokumen rahasia tentang kehidupan extraterrestrial, situs tersebut justru menampilkan peta Amerika Serikat dengan pelacakan “penangkapan alien” — istilah yang merujuk pada warga negara asing yang masuk ke AS secara ilegal.

“Mereka hidup di antara kita,” tulis teks hijau bernuansa misterius di situs tersebut, mengawali narasi yang sengaja dibuat dramatis. Pemerintah AS seolah membangun suspensi seolah-olah akan mengungkap kebenaran tentang makhluk luar angkasa, sebelum akhirnya mengarahkan pembaca pada isu imigrasi ilegal.

Dalam video yang diunggah di akun X Gedung Putih, narasi situs itu berbunyi: “Selama 60 tahun, pemerintah AS menyimpan sebuah rahasia besar. Para alien telah hidup di antara kita, tinggal di lingkungan kita, dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Hanya ada satu masalah mereka tidak seharusnya berada di sini.” Pernyataan ini memancing gelak tawa sekaligus kegeraman publik, mengingat isu imigrasi ilegal di AS memang sedang memanas.

Aliens.gov bukan sekadar situs statis. Data di laman tersebut akan terus diperbarui dan juga dimasukkan ke aplikasi Gedung Putih. Fitur pelacakan “penangkapan alien” memungkinkan warga melihat lokasi penangkapan secara real-time, lengkap dengan peta interaktif yang menunjukkan aktivitas penegakan hukum imigrasi di seluruh negara bagian. Langkah ini menambah panjang daftar kebijakan kontroversial Trump di bidang imigrasi, yang kerap mendapat sorotan tajam dari komunitas hukum dan politik AS.

Narasi di situs itu melanjutkan dengan menyerang pemerintahan sebelumnya. “Jutaan orang datang diam-diam di tengah malam dan membaur langsung ke dalam masyarakat kita. Banyak presiden, anggota kongres, dan pejabat tinggi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Namun alih-alih melindungi warga Amerika, mereka justru menutupinya dan bahkan mempercepat invasi itu,” bunyi pernyataan di situs tersebut.

Trump sendiri disebut sebagai satu-satunya sosok yang “berani mengatakan kebenaran.” Situs itu menggambarkan presiden ke-45 dan ke-47 AS itu sebagai pelindung warga Amerika dari ancaman imigran ilegal. Di bagian akhir, situs menulis: “Jika Anda menyaksikan penculikan oleh alien, jangan panik. Alien tersebut berada di tangan yang tepat. Kami akan menanganinya… dan mengembalikannya dengan aman ke tempat asalnya.”

Bukan hanya itu, Aliens.gov juga menyediakan kolom laporan bagi masyarakat untuk melaporkan “alien” mencurigakan di lingkungan mereka. Mekanisme ini memicu kekhawatiran kalangan aktivis hak asasi manusia tentang potensi profilasi dan diskriminasi terhadap komunitas imigran.

Di balik kemasan kreatif situs tersebut, realitas penahanan imigran di AS tetap suram. American Immigration Council menyebut sekitar 73 ribu orang ditahan di pusat detensi Immigration and Customs Enforcement (ICE) di seluruh AS hingga pertengahan Januari. “Masyarakat perlu mengetahui apa yang dilakukan pemerintah … termasuk dugaan pengabaian medis sistematis, tindakan abusif, hingga kurangnya akses makanan dan air yang layak,” kata organisasi tersebut.

Gelombang protes terhadap penangkapan dan deportasi imigran telah melanda berbagai wilayah AS sejak tahun lalu. Dalam demonstrasi di Minneapolis pada Januari, dua orang — Renee Good dan Alex Pretti — dilaporkan tewas ditembak agen ICE, memperketat tensi antara pemerintah dan komunitas imigran. Kasus ini menjadi pengingat betapa isu imigrasi di AS bukan sekadar soal keamanan perbatasan, tetapi juga menyangkut hak asasi manusia yang fundamental.