Danantara Sumberdaya Resmi Berdiri, Modal Rp100 Juta Kelola Ekspor SDA Satu Pintu
PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) resmi berdiri sebagai instrumen baru negara untuk mengelola ekspor komoditas sumber daya alam melalui skema satu pintu. Meski modal dasar awalnya tergolong mini, perusahaan pelat merah ini diproyeksikan menjadi mesin keuntungan baru bagi pemerintah.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa DSI dirancang sejak awal sebagai perusahaan berorientasi profit murni, bukan sekadar badan administratif pemerintah.
“Dari awal karena kebetulan di bawah Danantara, dan namanya Danantara Sumberdaya Indonesia, ide awalnya memang menjadi suatu perusahaan dan perusahaan BUMN yang memang harus profit for profit,” ujar Pandu dalam agenda Investor Daily Round Table, Selasa (26/5/2026).
Modal Rp100 Juta, Ambisi Ekspor Miliaran Dolar
Berdasarkan dokumen Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum, PT DSI resmi didirikan pada 18 Mei 2026 dan berkantor pusat di Wisma Danantara Indonesia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
Yang menarik, modal dasar awal perusahaan ini tergolong sangat kecil dibanding ambisi bisnisnya. DSI tercatat memiliki modal dasar sebesar Rp100 juta yang terbagi atas 399 lembar saham Seri A senilai Rp99,75 juta dan satu lembar saham Seri B senilai Rp250 ribu.
Dalam struktur kepemilikan saham, PT Danantara Asset Management memegang 99 saham Seri A senilai Rp24,75 juta. Sementara Pemerintah Republik Indonesia memegang saham Seri B senilai Rp250 ribu sebagai pengendali utama perusahaan.
Tiga Komoditas Jadi Fokus Awal
Pada fase awal operasional, DSI akan fokus pada aktivitas jual-beli komoditas strategis yang masuk dalam sistem ekspor satu pintu. Tiga komoditas utama yang menjadi sasaran awal yakni crude palm oil (CPO), batu bara, dan ferro alloy atau paduan besi.
Pandu mengakui DSI akan berkembang secara bertahap agar tetap fokus pada arah bisnis utama perusahaan. Langkah pertama yang akan ditempuh adalah menjadikan DSI sebagai “agent of business” sebelum memperluas fungsi dan lini usaha lainnya.
“Semua selangkah demi selangkah. Jadi awalnya menjadi agent of business dahulu,” katanya.
Pertumbuhan Cepat, Meniru Jejak BPI Danantara
Pandu optimistis pertumbuhan internal DSI akan berlangsung cepat, meniru perkembangan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara yang dalam setahun mampu berkembang pesat dari hanya tiga pegawai menjadi sekitar 450 pegawai.
“Kita mulai Februari dengan tiga orang. Akhir Maret sudah 30 orang. Sekarang setahun kemudian 450 orang,” ujarnya.
Kursi Direktur Utama dipercayakan kepada Luke Thomas Mahony, eks Direktur PT Vale Indonesia Tbk. Sedangkan posisi Komisaris Utama ditempati Harold Jonathan Dharma TJ, bankir investasi senior yang pernah menjabat Direktur Mandiri Sekuritas.
Dengan mandat mengelola ekspor komoditas strategis bernilai jumbo, kehadiran DSI dipandang bakal menjadi instrumen baru pemerintah dalam memperkuat kontrol perdagangan SDA nasional sekaligus mengejar keuntungan besar dari bisnis ekspor komoditas.