Harga Emas Ambruk 1,4 Persen ke US$ 4.508, The Fed Bayangi Pasar
Jakarta — Harga emas anjlok tajam pada perdagangan Selasa (26/5/2026) setelah kekhawatiran kenaikan suku bunga Amerika Serikat kembali membayangi pasar global. Logam mulia yang menjadi primadona investor ini ditutup di posisi US$ 4.508,46 per troy ons atau ambruk 1,4%.
Pelemahan ini berbanding terbalik dengan penguatan signifikan sebesar 1,4% pada hari sebelumnya. Tekanan jual muncul setelah serangan militer terbaru AS ke Iran meredam harapan kesepakatan damai, mendorong harga minyak naik, dan kembali memicu kekhawatiran inflasi.
“Pasar obligasi berpikir langkah suku bunga berikutnya dari Federal Reserve adalah kenaikan. Itu menjadi sentimen negatif bagi pasar emas hari ini,” kata analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff.
Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua Federal Reserve pada pekan ini di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral AS akan memperketat kebijakan moneter. Pasar saat ini memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang.
Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil ini cenderung tertekan dalam lingkungan suku bunga tinggi. Investor lebih memilih aset berbunga seperti obligasi yang memberikan imbal hasil lebih kompetitif.
Harga minyak Brent naik lebih dari 4% karena ketidakpastian masih membayangi apakah AS dan Iran akan mencapai kesepakatan dan kapan arus pengiriman melalui Selat Hormuz akan kembali normal. Kenaikan harga minyak mentah mendorong inflasi karena produsen meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
“Secara teknikal dalam jangka pendek, pasar masih menguntungkan pihak bearish, sehingga memicu aksi jual teknikal juga,” ujar Wyckoff.
Ia menambahkan bahwa pasar akan mencermati rilis Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS pada Kamis untuk mengukur tekanan inflasi dan arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.
Di sisi lain, UBS memangkas target harga emas akhir tahun sebesar US$400 menjadi US$5.500 karena risiko berlanjut dari imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dan penguatan dolar AS. Proyeksi ini menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap harga emas diprediksi masih akan berlanjut hingga akhir tahun.
