Saturday, May 30, 2026
Ekonomi

Macron Puji Keterbukaan Indonesia Impor Daging dan Susu Sapi dari Prancis

Jakarta — Presiden Prancis Emmanuel Macron tampaknya punya alasan tersenyum lebar usai pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto di Paris, Kamis (29/5/2026). Bukan cuma soal deklarasi pendidikan, Macron secara terbuka memuji keterbukaan pasar Indonesia terhadap produk susu dan daging sapi Prancis.

“Berbicara tentang keterbukaan ekonomi, saya juga ingin menyampaikan kepada Anda, Bapak Presiden, betapa senangnya kami atas pembukaan pasar Indonesia bagi produk susu dan daging sapi kami, yang juga mendampingi strategi kedaulatan pangan Anda, ambisi Anda untuk meningkatkan gizi rakyat Anda, serta kebijakan sosial besar yang telah Anda luncurkan,” kata Macron ketika bertemu dengan Prabowo, dilansir dari YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (30/5/2026).

Pujian Macron ini datang di tengah upaya pemerintah Indonesia meningkatkan konsumsi protein hewani bagi masyarakat. Data BPS menunjukkan konsumsi daging sapi Indonesia masih tertinggal di kawasan Asia, baru 2,77 kilogram per kapita. Keterbukaan impor dari Prancis disebut bisa menjadi salah satu jalan mempercepat pemenuhan kebutuhan gizi nasional yang harganya terus melambung.

Selain soal pangan, Macron juga mendorong percepatan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) antara Uni Eropa dan Indonesia. Menurutnya, kesepakatan itu akan membuka arus perdagangan dan investasi yang lebih besar antara kedua belah pihak.

“Di bidang ekonomi, kita akan memperkuat pertukaran perdagangan bilateral dan investasi silang. Dalam hal ini, saya berharap agar Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) antara Uni Eropa dan Indonesia dapat segera berlaku,” ujarnya.

Macron menilai Indonesia dan Uni Eropa punya karakter ekonomi yang saling melengkapi. Ia mendorong agar hambatan perdagangan dan investasi bisa segera diselesaikan demi menarik potensi penuh dari kemitraan kedua pihak.

“Saya tahu Anda berbagi harapan yang sama, karena kita memang saling melengkapi dalam banyak hal. Untuk menarik potensi penuhnya, penting agar perjanjian ini diterapkan sepenuhnya, terutama terkait penghapusan hambatan perdagangan dan investasi,” lanjutnya.

Di saat yang sama, Prancis juga menyatakan minat memperluas keterlibatan di berbagai proyek strategis Indonesia, mulai dari transportasi, kesehatan, energi, hingga pertanian. Pembentukan Dewan Bisnis Tinggi Prancis-Indonesia jadi salah satu wadah percepatan kerja sama tersebut.

“Dewan Bisnis Tinggi Prancis-Indonesia pertama yang bertemu saat ini juga akan memberikan dorongan kuat. Dewan inilah yang ingin kita bentuk bersama,” ujar Macron.

Kolaborasi kedua negara, menurut Macron, masih sangat luas di sektor-sektor yang jadi fokus transformasi ekonomi global. Prancis ingin memperdalam kemitraan di bidang-bidang bernilai tambah tinggi, termasuk transisi energi, pertambangan, dan pertanian.

“Saya juga sangat senang bahwa dewan ini memungkinkan kita untuk maju di banyak bidang, sekali lagi dalam transisi energi, sektor pertambangan, dan sektor pertanian. Banyak hal yang harus kita lakukan untuk memajukan dan mendiversifikasi kemitraan ini,” katanya.

Pertemuan ini menjadi bagian dari lawatan kenegaraan Prabowo ke Prancis yang menghasilkan empat kesepakatan senilai USD 3,5 miliar. Sebelumnya, Prabowo dan Macron juga secara resmi mengadopsi deklarasi pendidikan tinggi Indonesia-Prancis yang menandai dimulainya era baru kerja sama akademik kedua negara.

Di ranah politik dalam negeri, kebijakan Prabowo terkait Prancis menuai respons beragam. PDIP menilai instruksi wajib bahasa Prancis tidak perlu ikut-ikutan selera kunjungan diplomatik, sementara pihak lain menilai ini bagian dari strategi jangka panjang memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah global.