Rupiah Anjlok ke Rp 17.854 Saat Lembaga Pemeringkat Internasional Soroti Kontroversi Pembentukan DSI
Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026. Hingga pukul 09.35 WIB, rupiah ditransaksikan di level Rp 17.854 per dolar AS, melemah 53 poin atau 0,30 persen dari posisi sebelumnya di Rp 17.801.
Pelemahan ini tak lepas dari kekhawatiran pasar terhadap kebijakan pemerintah membentuk BUMN ekspor satu pintu, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Langkah sentralisasi ekspor komoditas sumber daya alam utama itu dinilai berpotensi mengganggu mekanisme perdagangan yang selama ini berjalan.
Lembaga Pemeringkat Global Soroti DSI
Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, keputusan pemerintah membentuk DSI telah memicu kekhawatiran pasar dan sejumlah lembaga pemeringkat global. Sorotan terutama datang dari Standard & Poor’s (S&P) dan Moody’s terhadap implementasi kebijakan tersebut.
Ibrahim menilai bahwa S&P menganggap mekanisme ekspor satu pintu tidak akan mudah dilakukan dalam waktu singkat. Risiko gangguan rantai perdagangan juga meningkat jika pelaksanaannya tidak berjalan optimal.
Sementara itu, Moody’s memberikan perhatian terhadap potensi perubahan pola perdagangan akibat kebijakan tersebut. Perubahan mekanisme pasar dinilai dapat memicu ketidakseimbangan baru di sektor perdagangan dan arus modal.
Arus Modal Asing Terus Keluar
Kondisi ini, menurut Ibrahim, membuat masalah tersendiri sehingga wajar apabila arus modal asing terus keluar dari Indonesia dan membuat rupiah tertekan. Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.790 hingga Rp 17.850.
“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.790—Rp 17.850,” ujarnya.
Selain sentimen DSI, pasar masih terus mencermati perkembangan geopolitik global. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah turut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS, yang semakin memperberat tekanan terhadap rupiah.
Kombinasi sentimen kebijakan ekspor dan tensi geopolitik global diperkirakan masih akan membayangi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Pemerintah dan Bank Indonesia dituntut respons cepat agar kepercayaan investor domestik maupun asing tidak semakin tergerus.