Friday, May 29, 2026
Ekonomi

Rupiah Terus Catatkan Rekor Terendah, Apa Faktor Penyebabnya?

Jakarta — Nilai tukar rupiah terus mencetak rekor terlemah baru terhadap dolar AS. Pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), rupiah melemah 0,28% ke level Rp17.780/US$, menembus level all time low baru. Secara year-to-date, rupiah sudah terdepresi sekitar 6,63%.

Pelemahan ini terjadi meski Bank Indonesia sudah menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin ke level 5,25%, kenaikan pertama sejak April 2024. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan keputusan itu diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah, sekaligus menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap dalam sasaran 2,5±1%.

Namun, penguatan rupiah hanya berlangsung sesaat. Mata uang Garuda sempat menguat pada hari pengumuman kenaikan suku bunga, tetapi sehari setelahnya kembali melemah. Berikut empat faktor utama yang membuat tekanan terhadap rupiah masih begitu berat.

Gejolak Geopolitik Perang AS-Iran

Faktor pertama datang dari luar negeri. Ketegangan geopolitik akibat perang AS-Iran di Timur Tengah telah menghiasi peta global sejak akhir Februari lalu. Konflik ini membuat pasar global cemas karena kawasan Timur Tengah memiliki peran sangat penting bagi pasokan energi dunia, terutama Selat Hormuz yang menjadi nadi perdagangan minyak dan gas global.

Ketika kawasan ini terganggu, harga energi bisa melonjak, inflasi global bisa kembali naik, dan The Federal Reserve berpotensi lebih sulit menurunkan suku bunga. Investor kemudian memilih aset yang dianggap paling aman, yakni dolar AS. Indeks dolar (DXY) kembali menguat dan sempat menyentuh level 100.

Namun, pelemahan rupiah termasuk salah satu yang cukup dalam dibandingkan mata uang Asia lainnya, termasuk ringgit Malaysia dan dolar Singapura. Artinya, tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari faktor eksternal.

Kredibilitas Fiskal yang Dipertanyakan

Faktor kedua datang dari dalam negeri. Pelaku pasar mulai mencermati bagaimana pemerintah mengelola APBN. Realisasi defisit APBN 2025 mencapai 2,92% terhadap PDB atau sekitar Rp695 triliun, sangat dekat dengan batas maksimal 3% yang diatur undang-undang.

Defisit yang terlalu dekat dengan batas atas memberi sinyal bahwa ruang fiskal pemerintah semakin sempit. Kekhawatiran makin besar ketika belanja negara tetap tinggi, sementara penerimaan negara dinilai belum cukup kuat untuk mengimbanginya.

Kondisi ini tercermin dari keputusan dua lembaga pemeringkat global. Moody’s memangkas outlook Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, sambil mempertahankan peringkat di Baa2. Moody’s menyoroti berkurangnya prediktabilitas dalam pembuatan kebijakan, risiko terhadap efektivitas kebijakan, serta potensi pelemahan tata kelola.

Fitch Ratings juga menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif dari stabil dengan peringkat BBB. Fitch menyebut ada peningkatan ketidakpastian dan penurunan kredibilitas dalam bauran kebijakan, serta memperkirakan defisit fiskal Indonesia pada 2026 dapat mencapai 2,9% PDB.

Investor Sensitif terhadap Arah Kebijakan

Selain fiskal, pasar juga mencermati arah kebijakan ekonomi pemerintah yang dinilai semakin besar peran negaranya. Rencana penguatan kendali negara atas ekspor komoditas strategis, termasuk batu bara dan minyak sawit, serta aturan agar devisa hasil ekspor sumber daya alam disimpan penuh di bank-bank BUMN mulai 1 Juni 2026 menjadi perhatian pasar.

Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat pasokan valas di dalam negeri dan membantu stabilitas rupiah. Namun, perubahan besar seperti ini menimbulkan pertanyaan soal mekanisme pasar, kepastian usaha, dan potensi gangguan terhadap rantai pasok. Ketika komunikasi kebijakan dianggap belum cukup jelas, pasar cenderung memilih mengurangi risiko terlebih dahulu.

Permintaan Dolar di Dalam Negeri Masih Tinggi

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari kebutuhan dolar AS di dalam negeri. BI menjelaskan bahwa permintaan dolar sedang tinggi karena beberapa faktor, termasuk repatriasi dividen oleh perusahaan, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan masyarakat terkait musim haji.

Repatriasi dividen terjadi ketika perusahaan membagikan keuntungan kepada pemegang saham, termasuk investor asing. Dana tersebut dikonversi ke dolar AS untuk dikirim ke luar negeri, membuat permintaan dolar di pasar domestik meningkat.

Hal yang sama juga terjadi pada pembayaran utang luar negeri. Perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing tetap membutuhkan dolar AS untuk membayar pokok maupun bunga utang. Ketika rupiah sedang melemah, kebutuhan ini menjadi semakin berat karena perusahaan harus menyiapkan rupiah lebih besar untuk mendapatkan dolar dalam jumlah yang sama.

Saat permintaan dolar naik, sementara pasokan valas belum cukup kuat mengimbanginya, rupiah akan lebih mudah melemah. Kondisi ini membuat tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari pasar global, tetapi juga dari kebutuhan riil di dalam negeri.