Friday, May 29, 2026
Ekonomi

Standard Chartered PHK 7.000 Karyawan, AI Jadi Biang Keroknya

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor perbankan global memasuki babak baru. Standard Chartered, bank raksasa asal Inggris, mengumumkan rencana pemangkasan 15% tenaga kerja di divisi korporasi hingga 2030 — setara lebih dari 7.000 orang. Kecerdasan buatan (AI) menjadi alasan utama di balik keputusan tersebut.

CEO Standard Chartered Bill Winters menegaskan langkah ini bukan sekadar upaya penghematan biaya konvensional. Perusahaan memilih jalur efisiensi radikal dengan mengganti posisi-posisi yang dianggap bernilai rendah oleh teknologi.

“Ini bukan sekadar pemangkasan biaya. Dalam beberapa kasus, kami mengganti human capital bernilai rendah dengan financial capital dan investment capital yang kami tanamkan,” ujar Winters seperti dikutip Reuters, Kamis (28/5/2026).

Dari hampir 82.000 pegawai Standard Chartered secara global, posisi yang paling terdampak berasal dari pusat operasional back-office. Lokasi-lokasi seperti Chennai, Bengaluru, Kuala Lumpur, dan Warsawa menjadi area prioritas pemangkasan. Winters menyebut AI akan menjadi fasilitator utama dalam transformasi sistem inti perbankan perusahaan.

Meski demikian, Winters menegaskan tidak semua pegawai akan diberhentikan. Sebagian akan mendapat kesempatan pelatihan ulang atau reskilling untuk beradaptasi dengan era baru perbankan berbasis AI.

“Orang-orang yang ingin meningkatkan keterampilan dan terus melanjutkan karier akan kami beri kesempatan untuk reposisi,” kata dia.

Langkah agresif Standard Chartered bukan insidentil. Mizuho Financial Group dari Jepang sebelumnya juga mengumumkan pengurangan hingga 5.000 pekerjaan dalam satu dekade. Tren serupa terjadi di seluruh industri perbankan global, di mana integrasi model AI terbaru berjalan beriringan dengan pengetatan biaya operasional.

Pemangkasan tenaga kerja ini datang di tengah target pertumbuhan yang justru semakin ambisius. Standard Chartered menargetkan return on tangible equity (ROTE) di atas 15% pada 2028 dan meningkat menjadi sekitar 18% pada 2030. Perusahaan juga mempercepat target penghimpunan dana baru bersih senilai US$200 miliar menjadi 2028, lebih cepat dari rencana sebelumnya pada 2029.

Fokus bisnis akan diarahkan pada segmen dengan margin lebih tinggi, termasuk nasabah ritel kaya dan institusi keuangan. Di sisi lain, tantangan geopolitik masih membayangi prospek industri perbankan global. Standard Chartered yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik dan Afrika telah menyisihkan provisi kehati-hatian sebesar US$190 juta terkait konflik di Timur Tengah pada kuartal pertama tahun ini.

“Kami sangat tangguh,” kata Winters saat ditanya mengenai dampak risiko geopolitik dan pasar terhadap kemampuan bank mencapai target bisnisnya.