Gelombang Panas Ekstrem Hantam Eropa Barat, PBB Sebut Krisis Iklim Makin Parah
Jakarta — Gelombang panas ekstrem menghantam sejumlah negara di Eropa Barat sepanjang pekan ini. Prancis, Inggris, Irlandia, Spanyol, Italia, dan Austria mencatat suhu tertinggi sepanjang masa untuk bulan Mei. Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai fenomena ini bukan kebetulan, melainkan dampak nyata krisis iklim yang semakin parah.
Executive Secretary of the United Nations Framework Convention on Climate Change Simon Stiell menegaskan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia menjadi penyebab utama gelombang panas yang semakin sering dan ekstrem.
“Ilmu pengetahuan jelas menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan manusia membuat gelombang panas ini lebih sering dan ekstrem,” kata Stiell dalam pernyataan yang dilansir AFP, Rabu (27/5/2026).
Korban Jiwa Berjatuhan di Eropa
Otoritas Prancis melaporkan tujuh kematian yang terkait gelombang panas pada Selasa. Lima di antaranya tewas tenggelam karena banyak warga mencari perlindungan di tempat-tempat berair. Inggris mencatat empat remaja tewas tenggelam sejak Minggu.
Prancis dan Inggris sama-sama mencatat hari terpanas sepanjang masa di bulan Mei pada Senin, kemudian terulang lagi pada Selasa. Irlandia juga memecahkan rekor suhu Mei, sementara Spanyol, Italia, dan Austria mengalami kondisi yang sangat panas untuk waktu ini dalam setahun.
India Juga Terdampak Parah
Bencana serupa juga melanda India. Pasukan sedang berjuang melawan kebakaran hutan, sementara otoritas setempat melaporkan kematian akibat serangan panas. Platform pemantauan kualitas udara internasional AQI mencatat 45 kota terpanas di dunia semuanya berada di India pada siang hari Rabu, dengan suhu di atas 43 derajat Celsius.
Stiell menekankan bahwa melindungi nyawa manusia, bisnis, dan ekonomi dari panas ekstrem adalah urusan inti bagi setiap negara.
“Melindungi nyawa manusia, bisnis, dan ekonomi dari panas ekstrem dan banyak biaya lain yang melonjak akibat perubahan iklim adalah urusan inti bagi setiap negara, dan itu dimulai dengan menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil jauh lebih cepat,” tegasnya.
Perang Timur Tengah Perparah Krisis Energi
Stiell juga menyoroti bahwa perang di Timur Tengah telah mengungkap biaya yang melonjak dari ketergantungan pada bahan bakar fosil. Kondisi ini semakin memperkuat urgensi untuk beralih ke sumber energi yang lebih bersih.
Gelombang panas yang melanda dua benua dalam waktu bersamaan menjadi pengingat keras bahwa krisis iklim bukan ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang terjadi. Tanpa langkah nyata untuk mengurangi emisi karbon, bencana iklim seperti ini akan semakin sering dan dahsyat.