Friday, May 29, 2026
Internasional

Selat Hormuz Memanas: AS Tembak Jatuh Drone Iran, Kuwait Terseret Konflik

Jakarta — Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak setelah pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran pada Rabu waktu setempat. Serangan ini terjadi beberapa jam setelah Teheran mengirim drone ke arah kapal-kapal komersial di kawasan strategis tersebut.

Pejabat AS mengonfirmasi bahwa jet tempur F/A-18, F-16, dan F-35 berhasil menembak jatuh empat drone serang satu arah yang diluncurkan Iran menuju kapal militer AS dan kapal komersial. F/A-18 kemudian menghantam unit kendali darat Iran di dekat Bandar Abbas sebelum dapat meluncurkan drone kelima.

Bandar Abbas merupakan kota pelabuhan utama di Iran selatan yang terletak di kawasan strategis Selat Hormuz. Lokasi ini dianggap mengancam pasukan AS dan jalur pelayaran komersial internasional.

Serangan AS ini mengakhiri periode tenang di bawah gencatan senjata yang sebagian besar telah dipatuhi kedua belah pihak. Pada Kamis pagi, Kuwait menjadi negara berikutnya yang terseret konflik setelah militer Kuwait mengumumkan pencegatan serangan rudal dan drone musuh.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang pangkalan AS sebagai tanggapan atas serangan tersebut. IRGC juga memperingatkan akan membalas serangan di masa mendatang.

Bentrokan terbaru ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi upaya diplomatik Gedung Putih. Pemerintah Trump berusaha menegosiasikan kesepakatan yang dapat menurunkan harga minyak, membatasi program nuklir Teheran, sekaligus membuka jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Presiden Trump mengisyaratkan dalam rapat kabinet bahwa ia masih berupaya menegosiasikan kesepakatan yang membuka Selat Hormuz untuk perdagangan dan melenyapkan cadangan uranium yang sangat diperkaya milik Iran. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi jalur utama.

“Diplomasi selalu menjadi pilihan pertama,” kata Rubio.

Sementara itu, dua pejabat pemerintah AS menegaskan bahwa serangan tersebut bersifat terbatas dan defensif, bukan eskalasi yang akan meruntuhkan gencatan senjata. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan selama insiden tersebut.