Friday, May 29, 2026
Internasional

Trump Ancam Serang Oman Bila ‘Main Mata’ dengan Iran di Selat Hormuz

Jakarta — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang Oman secara militer jika negara Teluk itu nekat bekerja sama dengan Iran mengendalikan Selat Hormuz, jalur pelayaran kritis yang mengalirkan lebih dari 20% pasokan minyak mentah global.

Ancaman itu dilontarkan Trump saat rapat kabinet di Gedung Putih, Rabu waktu setempat. Seorang reporter bertanya apakah ia akan menerima skema jangka pendek yang mengizinkan Iran dan Oman mengawasi perdagangan di selat strategis tersebut.

“Tidak ada yang akan mengendalikannya. Itu perairan internasional, dan Oman akan berperilaku seperti orang lain, atau kita harus meledakkannya,” jawab Trump seperti dikutip Al Jazeera.

Kementerian Luar Negeri AS kemudian membagikan transkrip kutipan itu di media sosial dengan merujuk langsung pada Oman — bukan Iran — meskipun sempat ada spekulasi bahwa presiden AS itu salah ucap.

Oman Bantah Rencana Kendali Bersama Hormuz

Oman yang dikenal netral sejauh ini belum pernah menyatakan keinginan bergabung dengan Iran dalam mengelola Selat Hormuz. Kedua negara justru punya hubungan diplomatik yang terjalin lebih dari 200 tahun, lengkap dengan perjanjian kemitraan keamanan dan perdagangan bebas.

Bahkan, Oman sebelumnya berperan sebagai mediator kunci saat Washington dan Teheran berupaya meredam perang yang pecah pada 28 Februari lalu — ketika AS dan Israel menyerang Iran. Peran tengah itulah yang menjadikan Oman sebagai salah satu sekutu terdekat AS di kawasan Teluk.

Ancaman terbaru Trump ini menyoroti kecenderungannya yang makin mengandalkan kekuatan militer dalam kebijakan luar negeri. Strategi ini kerap disebut “diplomasi kapal perang.”

Kritik Tajam: “Logika Bos Mafia”

Komentar Trump langsung memicu kecaman dari para pegiat hak asasi manusia. Raed Jarrar, direktur advokasi kelompok DAWN yang berbasis di AS, menyamakan nada ancaman itu dengan perilaku seorang “bos mafia.”

“Piagam PBB melarang ancaman kekerasan terhadap negara mana pun, dan larangan itu mengikat Amerika Serikat persis seperti mengikat semua orang lain,” kata Jarrar kepada Al Jazeera.

“Mengancam untuk ‘meledakkan’ sebuah negara Arab karena perairannya kebetulan berada di sepanjang jalur minyak yang ingin dibuka kembali oleh Washington adalah logika tanpa hukum yang sama yang menghasilkan perang ini pada bulan Februari, dan ini adalah sinyal paling jelas bahwa gencatan senjata apa pun yang ditengahi pemerintahan ini hanya akan bertahan sampai presiden kehilangan kesabarannya lagi dalam rapat kabinet.”

Draf MOU Iran-Oman Disebut “Rekayasa”

Ancaman Trump muncul setelah televisi pemerintah Iran melaporkan kerangka nota kesepahaman (MOU) antara Teheran dan Muscat. Draf memorandum itu dilaporkan akan memberikan Iran dan Oman kendali bersama untuk mengelola selat tersebut. Namun, pemerintahan Trump menyebut laporan itu sebagai “sebuah rekayasa sepenuhnya.”

Selat Hormuz, jalur pelayaran utama untuk produk energi global dan pupuk pertanian, telah beroperasi sebagai jalur internasional bebas selama beberapa dekade. Namun setelah AS dan Israel mulai membombardir Iran pada Februari, Teheran menutup selat itu dan mulai menegaskan kedaulatannya atas sebagian perairan teritorial yang dilalui jalur air tersebut.

Trump Dorong Normalisasi Hubungan Arab-Israel

Selain soal Hormuz, Trump juga mengulangi seruannya kepada negara-negara Arab — termasuk Arab Saudi dan Qatar — untuk menjalin hubungan formal dengan Israel sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata AS-Iran di masa depan. Dorongan normalisasi itu sempat terhenti, namun kembali menjadi prioritas utama Trump dalam beberapa hari terakhir.

“Saya pikir mereka berutang itu kepada kita, jujur saja,” kata Trump saat sesi meja bundar di rapat kabinet yang sama.

Ia kemudian menambahkan, “Saya tidak yakin kita harus membuat kesepakatan jika mereka tidak menandatanganinya, jika Anda ingin tahu yang sebenarnya.”

Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Al Jazeera terkait ancaman terhadap Oman ini.