Friday, May 29, 2026
Politik

Siswi Makassar Dicoret dari Paskibraka Dapat Beasiswa Pendidikan ke Luar Negeri

Jakarta — Pengurus Pusat Generasi Muda Perhimpunan Indonesia Tionghoa (PP GEMA INTI) memberikan beasiswa pendidikan ke luar negeri kepada siswi peserta seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Cathlyn Yvaeni Lesmana. Pemberian ini dilakukan setelah Cathlyn dicoret dari daftar calon Paskibraka tingkat nasional meski namanya sempat masuk tiga besar hasil seleksi di Sulawesi Selatan.

Beasiswa tersebut mencakup biaya pendidikan S1 penuh, termasuk living cost selama studi di luar negeri. Ketua PP GEMA INTI Ervan Sutono Nio menjelaskan program ini merupakan bagian dari rutinitas organisasinya yang setiap tahun mengirim siswa berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan biaya penuh.

“Beasiswa pendidikan S1, jadi nanti lulus SMA, ini kan masih kelas 10 siapkan beasiswa full, yang meliputi biaya pendidikan dan sampai dengan living cost selama di sana,” kata Ervan, Jumat (29/5).

Ervan menegaskan bahwa pemberian beasiswa ini bukan sekadar respons atas polemik seleksi Paskibraka, melainkan apresiasi terhadap kemampuan akademik Cathlyn yang dinilai sangat baik. Ia juga menyampaikan pesan penting bagi generasi muda agar tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan.

“Terlepas dari isu polemik yang sekarang, kami dari Generasi Muda Indonesia Tionghoa melihat bahwa kedua anak ini cukup berprestasi. Kita lihat dengan nilai-nilainya yang sangat bagus,” ujarnya.

Pemberian beasiswa ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah kisruh seleksi Paskibraka yang melibatkan berbagai pihak. Polemik ini bermula saat Cathlyn dinyatakan gugur dari seleksi tingkat nasional meski sebelumnya menempati peringkat tiga besar di Sulawesi Selatan. Keputusan tersebut memicu tuduhan diskriminasi dan dugaan pelanggaran dalam proses seleksi.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Selatan telah menjadwalkan Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada 2 Juni mendatang untuk mengusut tuntas penyebab pencoretan Cathlyn. RDP ini digelar setelah DPPI Kota Makassar mengirimkan surat berisi dugaan pelanggaran hasil penyaringan pada 26 Mei lalu.

“Insya Allah tanggal 2 Juni kita akan laksanakan RDP, saya sudah komunikasi dengan teman-teman DPRD, ibu ketua dan unsur pimpinan,” kata anggota Komisi C DPRD Sulsel Andre Prasetyo Tanta.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan membantah adanya diskriminasi dalam seleksi. Sekretaris Provinsi Sulsel Jufri Rahman menjelaskan bahwa pencoretan Cathlyn berdasarkan catatan kesehatan, termasuk kondisi penglihatan dan bentuk kaki.

“Kalau bukan karena matanya, penglihatannya agak kabur. Kemudian kakinya juga ada, apa istilahnya, flat foot atau telapak kaki datar,” ungkap Jufri.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin juga angkat bicara soal polemik ini. Appi, sapaan akrabnya, meminta agar seluruh proses seleksi dilakukan secara adil dan terbuka.

“Peserta dari Makassar ada, ini delegasi dari Kota Makassar yang dikirim seleksi. Masa tidak ada, kita berharap hasil seleksi semuanya fair,” kata Appi.

Polemik seleksi Paskibraka ini terjadi saat negara tengah mempersiapkan perayaan Hari Lahir Pancasila 1 Juni mendatang. BPIP baru saja merilis pedoman upacara untuk sekolah dan instansi, termasuk pedoman teknis bagi pasukan pengibar bendera di seluruh Indonesia.

Bagi Cathlyn, beasiswa dari GEMA INTI menjadi peluang baru setelah kekecewaan yang dialaminya. Ervan memastikan organisasinya akan mendampingi Cathlyn dan peserta lainnya selama proses RDP di DPRD Sulsel.

“Jangan putus asa ketika ada rencana yang belum sesuai harapan. Kita yakin masih ada peluang-peluang lain yang terbuka. Ini nilai yang ingin kami berikan ke generasi muda, supaya tidak mudah menyerah dan tetap semangat mengejar peluang lain,” ungkapnya.