Nekat Terobos Makkah, Pria Non Muslim Ini Pulang Jadi Mualaf
Jakarta — Seorang pria Belanda nekat menyamar sebagai Muslim untuk bisa masuk Kota Suci Makkah pada abad ke-19. Usaha tersebut akhirnya membawanya menjadi orang Eropa pertama yang menginjakkan kaki di Tanah Suci, meski harus menempuh jalan panjang dan kontroversial.
Christiaan Snouck Hurgronje lahir dari keluarga Kristen taat di Belanda pada 8 Februari 1857. Ayahnya berprofesi sebagai pendeta, namun Snouck justru tumbuh dengan ketertarikan mendalam terhadap Islam. Sejak muda, ia gemar mempelajari bahasa Arab, tradisi Timur Tengah, dan kehidupan umat Muslim.
Ketertarikan itu mendorongnya menulis penelitian berjudul Het Mekkaacnshe Feest (Perayaan Makkah) pada 1880 di Universitas Leiden. Penelitian tersebut dibuat tanpa pernah ia datangi langsung ke Makkah, hanya berdasarkan pembacaan beragam sumber.
Semua demi Penelitian
Keinginan Snouck mendatangi Makkah baru kesampaian pada Desember 1884. Bermodalkan dana dari pemerintah Belanda, ia tiba di Arab Saudi dan menetap di Jeddah. Namun, ia menyadari sulit masuk Makkah karena statusnya sebagai non-Muslim.
Maka, Snouck mengubah identitasnya. Ia mengganti nama dari Snouck Hurgronje menjadi Abdul Ghaffar dan mengucap dua kalimat syahadat sekitar 1885. Keputusan pindah agama ini menuai perdebatan. Banyak pihak meragukan ketulusannya, menganggap perpindahan agama hanya strategi agar bisa masuk Makkah.
Setelah resmi tercatat sebagai Muslim, Snouck menjalani sunat pada 21 Februari 1885. Proses inilah yang kelak memuluskan jalannya menuju Makkah.
Diinterogasi di Gerbang Kota Suci
Ketika tiba di Tanah Suci, Snouck awalnya dicegah polisi Arab. Penampilan fisiknya yang Eropa memancing kecurigaan. Satu-satunya cara membuktikan status Muslim adalah dengan menunjukkan bekas sunat.
Snouck pun menurunkan celananya di hadapan petugas. Dari situ, mereka percaya bahwa ia beragama Islam. Ia pun diizinkan masuk Makkah.
Selama enam bulan di Makkah, Snouck berhasil menyamar sebagai ilmuwan Muslim. Ia mengumpulkan banyak bahan penelitian tentang Islam dan melakukan umrah. Namun, keberadaannya terbongkar. Otoritas setempat mendapat laporan bahwa ia melakukan penyamaran, dan ia pun diusir dari Kota Suci.
Dari Makkah ke Indonesia
Meski diusir, Snouck tetap merampungkan penelitiannya. Ia kemudian menjadi penasihat khusus pemerintah Belanda untuk mempelajari kehidupan umat Muslim di Indonesia. Pada 1890-an, ia tinggal di berbagai kota Indonesia, dari Aceh hingga Jakarta, untuk memberi saran terkait kebijakan terhadap umat Muslim.
Kisah Snouck menjadi bukti betapa ketertarikan terhadap peradaban lain bisa mendorong seseorang menempuh jalan ekstrem. Meski kontroversial, penelitiannya tentang Islam dan masyarakat Muslim di Nusantara tetap menjadi rujukan sejarah hingga kini.
Baca juga: Jadwal Hari Tasyrik 2026: Umat Islam Dilarang Berpuasa, Ini Dalil dan Amalan yang Dianjurkan