Rupiah Ambruk ke Level Historis, Purbaya: Ini Enggak Masuk Akal
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ambruk ke level historis. Di pasar non-deliverable forward (NDF), mata uang Garuda bahkan sudah menyentuh Rp18.000 per dolar AS pada Rabu (27/5/2026).
Mengacu data Refinitiv pukul 10.16 WIB, kurs rupiah di pasar NDF mencapai Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS. Angka ini menjadi posisi terendah sepanjang sejarah mata uang Indonesia.
Untuk tenor satu minggu (SW), kurs NDF berada di kisaran Rp17.832–17.840 per dolar AS. Sementara tenor satu tahun sudah menembus Rp18.228–18.245.
Pelemahan ini jauh lebih dalam dibandingkan penutupan perdagangan reguler sebelum libur Idul Adha. Pada Selasa (26/5), rupiah mengakhiri sesi di level Rp17.775 per dolar AS atau melemah 0,25 persen.
Purbaya: Fundamental Bagus, Ini Enggak Masuk Akal
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai anjloknya rupiah mendekati Rp17.800 per dolar AS tidak masuk akal. Pasalnya, fundamental ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi baik.
“Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini enggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” ujar Purbaya di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan.
Saat ditanya soal rencana stress test APBN akibat tren pelemahan nilai tukar, Purbaya menolak. Pihaknya sudah menghitung skenario ketika harga minyak dunia menyentuh US$100 per barel.
“Ya, saya stress,” kelakar Purbaya. “Enggak (ada stress test), kami sudah hitung, pada waktu simulasi 100 dolar per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kami perhitungkan.”
“Jadi enggak ada masalah, saya enggak harus hitung ulang APBN-nya,” tegasnya.
Pasar Obligasi Masih Terkendali
Purbaya juga menyebut imbal hasil (yield) di pasar obligasi Indonesia justru mengalami penurunan. Hal itu tak lepas dari aksi pemerintah melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara melalui treasury operation.
“Tapi gini, walaupun rupiah melemah, kan bond yield-nya turun. Karena aksi dari pemerintah, aksi dari teman-teman kita di Perbendaharaan, untuk sedikit membeli, supaya yield-nya agak terkendali,” terang Purbaya.
Ia memastikan selama pasar obligasi terkendali, aliran modal asing akan tetap masuk. Purbaya juga mengisyaratkan bakal ada langkah lanjutan dari pemerintah untuk menopang rupiah.
“Kita sudah mulai melihat aliran masuk modal asing ke pasar obligasi kita. Dan ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu nilai tukar rupiah dengan lebih signifikan,” ujarnya.
NDF Jadi Sinyal Kehati-hatian
Pasar NDF merupakan instrumen derivatif valas yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu. Berbeda dari kontrak forward, pada NDF tidak terjadi penyerahan mata uang pokok saat jatuh tempo.
Yang dibayarkan hanya selisih antara kurs yang disepakati di awal kontrak dengan kurs acuan saat jatuh tempo. Karena berbasis selisih, NDF banyak digunakan untuk lindung nilai.
Ketika harga rupiah di NDF lebih lemah dari pasar spot, hal itu menjadi sinyal kehati-hatian. Pelaku pasar melihat risiko dan ketidakpastian masih tinggi, sehingga permintaan lindung nilai meningkat.
Pasar NDF sendiri belum tersedia di Indonesia. Instrumen ini hanya diperdagangkan di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, dan London.
