Friday, May 29, 2026
Ekonomi

Rupiah Anjlok ke Rp 17.854 Saat Lembaga Pemeringkat Soroti Kebijakan DSI

Jakarta — Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh Rp 17.854 per dolar AS pada perdagangan Kamis (28/5/2026) pagi. Pelemahan 53 poin atau 0,30% dari posisi sebelumnya di Rp 17.801 ini tak lepas dari kekhawatiran pasar terhadap kebijakan sentralisasi ekspor yang baru diinisiasi pemerintah.

PT Danantara Sumberdaya Indonesia Picu Kecemasan Global

Pembentukan BUMN ekspor satu pintu PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menjadi sorotan utama pelaku pasar. Kebijakan yang mengonsolidasikan ekspor komoditas sumber daya alam utama ini dinilai berpotensi mengganggu mekanisme perdagangan yang selama ini berjalan.

Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa sentralisasi ekspor ini memicu kekhawatiran tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di kalangan lembaga pemeringkat kredit internasional.

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.790—Rp 17.850,” ujar Ibrahim.

S&P dan Moody’s Soroti Risiko Kebijakan Ekspor

S&P Global Ratings menyoroti implementasi kebijakan DSI yang dinilai tidak akan mudah dilakukan dalam waktu singkat. Lembaga pemeringkat ini mengkhawatirkan risiko gangguan rantai perdagangan jika pelaksanaannya tidak berjalan optimal.

Sementara itu, Moody’s juga memberikan perhatian serupa terhadap potensi perubahan pola perdagangan akibat kebijakan tersebut. Perubahan mekanisme pasar dinilai dapat memicu ketidakseimbangan baru di sektor perdagangan dan arus modal.

Menurut Ibrahim, kondisi ini menjadi pemicu utama arus modal asing yang terus keluar dari Indonesia. Ketidakpastian kebijakan ekspor ditambah ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat investor semakin waspada terhadap aset berisiko.

Geopolitik Timur Tengah Tekan Sentimen Pasar

Selain sentimen domestik, pasar masih terus mencermati perkembangan eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Situasi ini meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS, yang semakin memperlemah posisi rupiah.

Kombinasi antara sentimen kebijakan ekspor dan tensi geopolitik global diperkirakan masih akan membayangi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Para investor menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai mekanisme operasional DSI dan dampaknya terhadap ekspor nasional.