Thursday, May 28, 2026
Internasional

AS Langgar Gencatan Senjata, Upaya Damai dengan Iran Berantakan Lagi

Jakarta — Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke Iran di tengah proses negosiasi damai yang tengah berlangsung, memicu kekhawatiran bahwa upaya penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik kembali berantakan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Selat Hormuz harus kembali dibuka dengan cara apa pun.

“Selat Hormuz harus terbuka, dengan satu cara atau cara lainnya,” ujar Rubio kepada wartawan di pesawatnya saat melakukan kunjungan ke India.

Konflik Iran-AS sendiri pecah setelah serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Perang tersebut memicu guncangan pasokan minyak global yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mendorong lonjakan harga bahan bakar, pupuk, hingga pangan dunia.

Selama perang berlangsung, lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok drastis. Padahal jalur sempit tersebut biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Garda Revolusi Iran mengatakan sebanyak 25 kapal tanker minyak dan kapal lainnya telah melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir dengan izin dari Iran.

Di tengah situasi itu, harga minyak mentah Brent dunia kembali melonjak sekitar 3,5% pada Selasa hingga mendekati US$100 per barel. Garda Revolusi Iran juga memperingatkan bahwa mereka tetap memiliki hak untuk membalas serangan AS terbaru.

Pasukan elite Iran itu mengeklaim unit pertahanan udara mereka berhasil menembak jatuh sebuah drone AS serta menembaki drone lain dan jet tempur yang disebut memasuki wilayah udara Iran di kawasan Teluk.

Sementara itu, pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei kembali melontarkan retorika keras terhadap AS dan Israel. Dalam pesan yang diunggah di kanal Telegram resminya bertepatan dengan musim ibadah haji tahunan, Mojtaba mengatakan:

“Mulai sekarang, slogan ‘Kematian untuk Amerika’ dan ‘Kematian untuk Israel’ akan menjadi slogan bangsa Islam dan rakyat tertindas dunia.”

Di tengah ketegangan yang terus membara, pejabat Iran dan AS mengindikasikan adanya kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung terkait nota kesepahaman awal. Media Iran melaporkan negosiator utama Teheran, Mohammad Baqer Qalibaf, baru kembali dari Qatar setelah meminta pencairan sekitar US$24 miliar dana Iran yang dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan awal.

Di sisi lain Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa mengatakan negaranya justru memperluas operasi militer di Lebanon.

“Israel memperdalam operasinya di Lebanon,” kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan, sambil menambahkan bahwa pasukannya kini bergerak dengan “kekuatan besar di lapangan”.

Menurut sumber-sumber Iran, kesepakatan awal nantinya akan mencakup penghentian permusuhan di semua front perang, pemulihan lalu lintas kapal di Selat Hormuz selama 30 hari, dan kemungkinan bantuan finansial tertentu bagi Iran. Isu-isu yang lebih rumit, termasuk program nuklir Iran, akan dinegosiasikan dalam tahap kedua.