Gunung Marapi Erupsi Sabtu Pagi, Semburkan Abu Setinggi 2.000 Meter
Gunung Marapi yang membentang di Kabupaten Agam dan Tanah Datar, Sumatra Barat, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Sabtu pagi. Erupsi yang terjadi pukul 08.42 WIB itu mengirimkan kolom abu vulkanik setinggi 2.000 meter ke angkasa, menandakan bahwa gunung tertinggi di Sumatra ini belum sepenuhnya reda.
Pos Pengamat Gunung Api Marapi di Kota Bukittinggi mencatat durasi letusan mencapai 85 detik dengan kolom abu mengarah ke timur laut. Warga di sekitar lereng gunung sempat mendengar gemuruh yang cukup keras sebelum awan gelap mulai menutupi sebagian langit pagi mereka.
“Letusan sampai saat laporan ini dibuat masih berlangsung,” kata petugas PGA Marapi, Ahmad Rifandi saat dikonfirmasi.
Kolom abu yang dilontarkan Gunung Marapi berwarna kelabu tebal, menyebar ke arah timur laut dan berpotensi menimbulkan hujan abu di beberapa kecamatan di sekitar gunung. Status gunung saat ini berada di level II atau waspada, dengan zona bahaya radius 3 kilometer dari pusat erupsi.
Imbauan Keselamatan untuk Warga Sekitar
Pihak pengamat meminta masyarakat di sekitar gunung untuk tidak masuk atau melakukan aktivitas apa pun dalam wilayah radius bahaya. Selain itu, warga juga diimbau bersiap menghadapi potensi hujan abu vulkanik yang bisa mengganggu kesehatan pernapasan dan merusak properti.
“Jika terjadi hujan abu maka masyarakat diimbau untuk menggunakan masker penutup hidung dan mulut untuk menghindari gangguan saluran pernapasan (ISPA), serta perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit. Selain itu agar mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang tebal agar tidak roboh,” kata dia.
Selain dampak langsung terhadap kesehatan, abu vulkanik yang menumpuk di atap bangunan juga berpotensi menyebabkan kerusakan struktural. Beberapa rumah di kaki Gunung Marapi pernah mengalami atap ambrol akibat beban abu yang terlalu berat saat erupsi sebelumnya.
Marapi Gunung Aktif dengan Rekam Jejak Panjang
Gunung Marapi merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Sepanjang sejarahnya, gunung dengan ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut ini telah puluhan kali mengalami erupsi. Aktivitas vulkaniknya menjadi perhatian rutin bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatra Barat dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Erupsi kali ini terjadi di tengah situasi cuaca yang relatif cerah di Sumatra Barat. Namun, perubahan kondisi vulkanik bisa terjadi sewaktu-waktu, sehingga kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama. Bagi warga yang berada di luar zona bahaya, penggunaan masker tetap disarankan jika terjadi hujan abu.
Sementara itu, aktivitas penerbangan di Bandar Udara Internasional Minangkabau belum dikonfirmasi terganggu. Namun, jika kolom abu terus meninggi dan mengarah ke jalur penerbangan, potensi penundaan penerbangan bisa terjadi. Para pelancong yang memanfaatkan long weekend akhir Mei diimbau memantau perkembangan terkini dari BMKG dan PVMBG.
Kasus erupsi gunung api belakangan ini juga menjadi perhatian nasional. Tragedi di Gunung Dukono yang menewaskan pendaki beberapa waktu lalu menjadi pengingat betapa pentingnya mematuhi zona aman saat gunung dalam status waspada. Risiko yang ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik tidak bisa diremehkan, terutama bagi mereka yang nekat mendekati kawah aktif.
Pemerintah daerah setempat telah mengaktifkan posko siaga dan mendistribusikan masker ke beberapa kecamatan yang berpotensi terdampak hujan abu. Sementara itu, warga diimbau tetap tenang dan mengikuti instruksi dari aparat setiap ada perubahan status gunung.
Kejadian erupsi Marapi ini juga mengingatkan pentingnya mitigasi bencana di kawasan rawan gempa dan gunung api. Sumatra Barat, yang terletak di jalur Cincin Api Pasifik, memiliki ratusan gunung berapi aktif yang perlu terus dipantau. Kerja sama antara BMKG, PVMBG, dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam menjaga keselamatan warga di wilayah vulkanik.