Saturday, May 30, 2026
Ekonomi

Rupiah Terus Terpuruk, Kebijakan BI Dinilai Telat Bendung Pelemahan

Jakarta — Nilai tukar rupiah terus bergerak di zona kritis mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, memaksa Bank Indonesia mengambil langkah defensif yang kini menuai sorot tajam dari pelaku pasar. Tekanan berlapis dari sentimen global dan defisit fiskal domestik membuat mata uang garuda semakin tak berdaya.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot terkapar di level Rp17.847 per dolar AS, bahkan sempat menembus posisi terendah Rp17.949 per dolar AS selama periode libur panjang Iduladha. Pelemahan ini mendorong para investor asing beramai-ramai menarik dananya dari pasar saham domestik, menciptakan gelombang capital outflow yang makin sulit dibendung.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menegaskan bahwa kejatuhan rupiah saat ini tidak lagi murni karena faktor global seperti eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Ketika tensi global sempat mereda dan harga minyak dunia melandai, rupiah nyatanya tetap gagal bangkit. Hal ini mengonfirmasi bahwa persepsi investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia kian memburuk.

“Kebijakan moneter BI seperti kenaikan suku bunga dikarenakan telat. BI mesti jauh lebih agresif dan kembali menaikkan suku bunga ke depan. Sentimen negatif sudah terlanjur mendapatkan momentum,” cetus Lukman tajam.

Pasar kini menyoroti kerentanan dari dalam negeri yang kian menganga. Aksi jual masif di pasar saham domestik terus terjadi, diperparah oleh lonjakan permintaan dolar musiman untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen di tengah pasokan valas yang sangat terbatas. Celakanya, kondisi ini diperberat oleh kecemasan akut para investor asing terhadap pembengkakan defisit anggaran pemerintah yang terus melebar mendekati ambang batas aman 3% terhadap Produk Domestik Bruto.

Meskipun indikator makro saat ini terlihat solid, pasar memilih realistis dan mengantisipasi risiko nyata perlambatan ekonomi di masa depan akibat biaya pinjaman yang semakin mahal. Guna menahan eksodus modal, BI diprediksi terpaksa harus mengerek suku bunga acuan hingga 100 basis poin lagi ke depan—sebuah langkah darurat yang dipastikan akan menekan sektor riil dan mengerem ekspansi dunia usaha.

Situasi ini juga berdampak langsung pada harga komoditas domestik. Harga emas Antam yang sempat melonjak ke Rp2.799.000 per gram beberapa waktu lalu kembali menjadi acuan investor mencari perlindungan nilai di tengah ketidakpastian mata uang.

Merespons situasi darurat ini, Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, berdalih bahwa tekanan ini dipicu ketidakpastian global dan lonjakan kebutuhan valas musiman. BI mengklaim terus melakukan intervensi habis-habisan di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward, hingga pasar sekunder.

Langkah teranyar BI adalah membatasi pembelian valas tunai tanpa underlying menjadi maksimal US$25 ribu per bulan per pelaku mulai Juni 2026. Kebijakan ini diharapkan mampu meredam spekulasi valas, meski sejumlah analis menilai langkah tersebut datang terlambat mengingat rupiah sudah berada di posisi terburuk di Asia.

Dampak pelemahan rupiah terhadap daya beli masyarakat juga tak bisa diabaikan. Harga bahan pokok yang sudah melambung sejak awal tahun diperkirakan akan terus naik seiring meningkatnya biaya impor. Kondisi ini menambah daftar panjang tantangan ekonomi yang harus dihadapi pemerintah di sisa tahun 2026.