Saturday, May 30, 2026
Ekonomi

Dampak Rupiah Melemah: Eksportir Untung, Importir dan Masyarakat Menanggung Beban Berat

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang terus berlanjut membawa konsekuensi berbeda bagi setiap pelaku ekonomi. Sementara eksportir berpotensi meraup keuntungan dari kurs, importir dan masyarakat justru menanggung beban berat.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan, pelemahan rupiah membuka peluang bagi eksportir karena pendapatan dalam dolar bernilai lebih besar saat dikonversi ke rupiah. Namun keuntungan itu tidak serta-merta dirasakan semua pihak.

“Pelemahan rupiah memang dapat memberi keuntungan kurs bagi eksportir karena pendapatan dolar bernilai lebih besar saat dikonversi ke rupiah,” ujar Syafruddin kepada CNNIndonesia.com, Jumat (29/5).

Di tengah gejolak nilai tukar, transaksi Rp50 triliun mengguncang BEI akibat isu DHE dan rebalancing MSCI, menambah kekhawatiran pelaku pasar tentang stabilitas ekonomi nasional.

Banyak eksportir Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor, mesin impor, energi berbasis harga global, dan pembiayaan valuta asing. Ketergantungan ini membuat margin keuntungan dari pelemahan rupiah rentan tergerus.

“Jika biaya input dolar ikut naik, keuntungan kurs dapat terkikis,” kata Syafruddin.

Sementara itu, importir menjadi pihak yang paling cepat merasakan tekanan. Saat rupiah bergerak di sekitar Rp17.865 per dolar AS dan pasar forward mengarah ke level lebih tinggi, importir harus menyediakan rupiah lebih besar untuk membeli dolar. Beban biaya ini langsung menekan harga bahan baku, barang modal, obat-obatan, komponen elektronik, hingga pangan.

“Beban ini langsung masuk ke harga bahan baku, barang modal, barang konsumsi impor, obat-obatan, komponen elektronik, pangan tertentu, dan energi,” ujar Syafruddin.

Harga emas Antam yang melonjak ke Rp2.799.000 per gram menjadi salah satu indikator bagaimana pelemahan rupiah turut mendorong kenaikan harga komoditas domestik.

Bagi masyarakat umum, dampak pelemahan rupiah tidak terasa langsung di money changer. Masyarakat membayar mahal lewat kenaikan harga barang elektronik, kendaraan, obat-obatan, biaya pendidikan luar negeri, hingga tagihan rumah tangga.

“Masyarakat mungkin tidak langsung membeli dolar, tetapi mereka membeli barang yang memakai komponen impor,” tutur Syafruddin.

Selain kenaikan harga, suku bunga yang tetap tinggi untuk menjaga stabilitas rupiah juga berdampak pada cicilan kredit kendaraan, KPR, pinjaman usaha, dan biaya modal yang menjadi lebih berat.

“Jadi, masyarakat membayar pelemahan rupiah bukan hanya di money changer, melainkan juga di pasar, toko, cicilan, dan tagihan rumah tangga,” kata Syafruddin.

Inflasi saat ini masih terkendali di angka 2,42 persen tahunan dengan inflasi inti sekitar 2,44 persen. Angka itu memberi ruang bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas. Namun impor barang dan jasa tumbuh lebih cepat daripada ekspor, sehingga tekanan harga dari pelemahan kurs akan terus terasa jika tidak ada respons kebijakan yang tepat waktu.

Syafruddin menyarankan pemerintah perlu menjaga pasokan, menahan biaya logistik, memperkuat stabilisasi pangan, dan memastikan kebijakan kurs tidak terlambat merespons ekspektasi pasar. Industri juga didorong memperkuat lindung nilai, memperbesar kandungan lokal, dan menata ulang rantai pasok agar tidak terus menjadi korban volatilitas kurs.

“Pemerintah perlu menjaga pasokan, menahan biaya logistik, memperkuat stabilisasi pangan, dan memastikan kebijakan kurs tidak terlambat merespons ekspektasi pasar,” ujar Syafruddin.